Archive for April, 2005

I Love Monday

Tuesday, April 26th, 2005

Jam dinding belum
sampai menunjuk angka 6 pagi. Mataku terbuka bersamaan dengan telingaku yang
samar mendengar suara berisik di dapur. Suara benda digoreng di minyak panas,
suara gemericik air, dan suara denting piring yang beradu dengan piring
lainnya. Sepagi ini Mama sudah sibuk di dapur. Masakan apa lagi yang disiapkan
khusus bekal putri-putrinya Senin pagi ini?

“Mbak, iki
icipono…”Mama menyodorkan sendok makan berisi kuah semur di ujungnya.

Sejak mama tidak
lagi mengalami menstruasi, setiap Senin Kamis Mama rutin berpuasa. Tapi puasa
tidak mengurangi semangatnnya menyajikan masakan kaya rasa di Senin pagi. Untuk
sarapan 2 putrinya yang selalu berangkat jam 7 pagi untuk bekerja di luar kota.

Semangat Mama
inilah yang membuat aku menyadari betapa hebatnya dia. Bukan wanita karier
seperti wanita jaman sekarang pada umumnya (tidak juga seperti 2 putrinya
sekarang), dan tidak ikut organisasi apapun kecuali dasa wisma dan pengajian
Al-Hidayah. Bukan cuma urusan masak yang patut diacungi jempol. Sejak aku kecil
Mama sering membuatkan pakaian. Sampai sekarang aku masih sering meminta Mama
menjahitkan baju untuk kesempatan khusus, pernikahan teman misalnya. Mama tak
pernah komplain meski ‘order’ membuat pakaian datang H-3 acara khusus itu.

Kegigihan Mama tiba-tiba membuat aku ingin menjadi seperti dirinya. Yang
tidak disibukkan urusan kantor, yang tidak disibukkan keluh kesah karyawan,
yang tidak disibukkan trouble jaringan komputer dan kesibukan-kesibukan lainnya
di luar kerumah tanggaan. Karena tuntutan pekerjaan tidak lagi memberi aku
kesempatan menyiapkan kebutuhanku sendiri. Terpikir, rasanya sulit menjadi
seperti Mama tanpa harus meninggalkan pekerjaan. Terpikir, untuk meninggalkan
pekerjaan suatu saat nanti dan secara total mengabdi hanya untuk rumah tangga.
Apakah cita-cita’ itu terlalu tinggi???Aku tak tahu… Yang aku tahu
pasti..keinginanku untuk menjadi seperti Mama tidak akan pernah didukung oleh
Mama.

Every Day is Beautiful Day

Monday, April 25th, 2005

Mendekati malam,
tak ada suara lain selain suara 5 orang dan suara alam.. 5 orang berpakaian
lusuh dan membawa beban berat di punggung yang sedang mencari-cari tempat untuk
camp. Sementara tanah memanjang tempat kelima orang itu berpijak lebarnya tak
lebih dari 5 meter. Setelah itu jurang menganga memisahkan puncak punggungan satu
dengan puncak lainnya. Kondisi tanah juga bukan tanah keras layaknya tanah
lapangan bola atau camping ground umumnya. Tanah disitu tertutup batang pohon Pakis
Kurung, sehingga setiap kaki berpijak serasa menginjak tumpukan rotan. Tapi tampaknya
itu adalah tempat paling layak untuk mendirikan tenda.

3 dari 5 orang
itu dengan sigap mendirikan tenda dan menyiapkan semua kebutuhan istirahat. Sementara
2 orang lainnya sibuk membidikkan kompas dan mencocokkannya di selembar peta
Gunung Anjasmoro. Dari tempat itu mereka memastikan sedang berada di sebuah sadel
diantara Puncak  Gunung Anjasmoro dan Gunung
Biru. Gunung Biru adalah target kelima orang itu, yang mereka targetkan sampai
disana esok hari. Mereka berada di gunung itu sejak kemarin siang. Semalam
mereka menginap di puncak Anjasmoro. Jarak dari puncak Anjasmoro ke tempat
mereka sekarang berada tak lebih dari 2 kilometer. Perjalanan menjadi sangat
lama karena mereka melalui jalur itu dengan membuka jalur baru. Karena memang
tak ada jalur konvensional antara Gunung Anjasmoro – Gunung Biru. Berbeda
dengan jalur menuju Gunung Anjasmoro, yang cukup terbuka dan biasa dilalui
orang.

Jalur menuju ke
tempat mereka mendirikan tenda sekarang cukup sulit, karena hampir semuanya
tertutup Pakis Kurung. Jenis tanaman yang batangnya seperti rotan dan merambat.
Pisau tebas yang dibawa tim itu  tidak
terlalu ampuh menaklukkan batang Pakis Kurung. Akhirnya sesekali mereka harus
mengalah dengan merangkak dibawah ‘kanopi’ Pakis Kurung itu. Sesekali mereka
juga harus membuat instalasi mountaineering untuk bisa melalui jalur yang
terlalu terjal.

Puncak Gunung
Biru tak seperti Puncak Gunung Anjasmoro atau puncak-puncak gunung lainnya. Tak
ada triangulasi, tak ada tanda-tanda apapun yang menunjukkan itu adalah puncak
gunung. Yang meyakinkan kelima orang itu hanyalah interpretasi bentukan alam, kontur
di peta, dan hasil bidikan kompas. Dua titik bidik yang dijadikan acuan adalah
Puncak Anjasmoro dan sebuah puncak kecil tak jauh dari puncak Gunung Biru yang terbaca
di peta keluaran Belanda itu. Kelima orang itu sampai sekarang meyakini telah
mencapai puncak Gunung Biru.

**

Meski tak terlihat jelas mana puncak Gunung Biru mana Puncak Anjasmoro,
dari kejauhan aku yakin, salah satu bagian deretan pegunungan di seberang
lautan itu pernah aku jelajahi bersama 4 rekan lainnya. Memandangi deretan
pegunungan itu dari jendela bis patas yang sedang melintasi pesisir selatan Madura,
menimbulkan sensasi tersendiri. Terlihat jelas deretan pegunungan berjajar
indah mulai dari Anjasmoro-Biru-Penanggungan-Arjuno-Welirang-dan pegunungan
Bromo yang menyatu dengan birunya langit dan lautan Selat Madura, nyaris
seperti lukisan. Rasanya tak mungkin kembali menjelajahi deretan pegunungan itu
bersama 4 rekan yang lain. Membuka jalur lagi, mendirikan tenda lagi, membidikkan
kompas lagi, membawa beban lagi. Aku tersenyum. Meski waktu itu terasa berat
dan melelahkan, sekarang cukup indah untuk dikenang. Aku juga tersenyum untuk
hari ini, yang nanti mungkin akan menjadi indah untuk dikenang.

Bersyukurlah atas Karunia – Nya

Monday, April 25th, 2005

Siang yang terik
Kota Pahlawan tak terlalu terasa ketika melintasi jalan Dr. Sutomo. Di jalan
itu aku sempat melihat sebuah papan nama griya perawatan kulit. Sebelumnya aku
bersama kawanku yang sekarang sedang aku bonceng di sepeda motor leter S,
sempat berdiskusi tentang tempat yang bagus untuk menangani gangguan kulit,
terutama wajah. Ada 2 tempat yang paling menarik dibahas. Dua-duanya terletak
di sekitar jalan Dr. Sutomo ini. Tapi aku tak ada niat untuk berhenti di salah
satu griya perawatan itu.

Di griya itu
setiap hari ada saja orang yang selalu ingin tampil lebih baik dari keadaannya
saat ini. Seorang resepsionis griya perawatan itu sendiri berbadan gemuk,
akhirnya menjadi model untuk sebuah produk perawatan pelangsingan tubuh. Itu
beberapa waktu yang lalu. Tapi sekarang badannya gemuk lagi karena memang tak
pernah olahraga dan mengatur makan.

Di lain waktu
seorang anak profesor dari Bali datang ke griya itu. Masih dengan masalah
kegemukan, gadis itu datang untuk sedot lemak. Tubuh gadis itu sudah terlalu
banyak ‘terkontaminasi’ peralatan operasi. Sebelumnya dia menjalani operasi
plastik penyempurnaan payudara.

Seorang berkulit
putih, langsing, cantik, dan tinggi, datang untuk kontrol setelah operasi plastik. Sekilas orang akan
bertanya, fisik sesempurna ini masih melakukan operasi plastik untuk apalagi???Ternyata dia ingin bisa
memakai baju tank top, yang mau tak mau harus menampakkan pusarnya. Sementara
pusarnya menurut istilah Jawa, ‘bodong’. Lain lagi dengan seorang perempuan
yang terkesan ‘ndeso’ karena penampilannya sangat tidak meyakinkan bisa datang
ke griya berbiaya tinggi itu. Perempuan itu penampilannya terlalu sederhana dan
tak terpikir oleh orang kalau perempuan itu punya niatan melakukan operasi
plastik. Berpakaian lusuh, rambut dikuncrit. Nyatanya….perempuan itu termasuk
pasien operasi plastik ‘tarik bibir’,
agar senyumnya bisa lebih menawan..

Masih di griya
itu, seorang perempuan ternama dari Madura datang didampingi 3 orang ‘body
guard’nya. Satu memegang tangan kanan, satu memegang tangan kiri, dan satu
khusus membawakan tasnya. Jenis operasi plastik yang dipilih cukup umum, ‘tarik
kulit’ wajah agar kulit tampak kencang. Tidak berkerut. Yang membuat orang
tertegun adalah di usianya yang menginjak kepala 8, perempuan itu masih sempat
memikirkan operasi plastik.

Biaya yang mereka keluarkan untuk sekedar merawat karunia Tuhan itu
tidaklah murah. Ratusan bahkan sampai jutaan rupiah rela mereka keluarkan. Demi
penampilan dan tentu saja decak kagum orang yang melihat. Atauuu…demi menjaga
agar suami mereka tidak lari ke pelukan wanita lain…Entahlah…Aku cuma
teringat pada seorang kerabat yang saat pernikahannya tak mau samasekali di make
up dan berpakaian ala pengantin pada umumnya. Karena ber make-up sama dengan
mengingkari karunia Tuhan katanya…Anyway..jangan lupa bersyukur atas karunia Nya..kemarin..hari ini..dan esok hari..kapanpun.

Belajar Mencintai

Tuesday, April 19th, 2005

Aku melirik
kalender yang tergantung di sisi kanan ruang kerjaku. Dalam bulan ini ada
tanggal berwarna merah cukup rapat dengan hari Sabtu. Itu berarti long wik N
yang perlu di rencanakan.

“Long Wik N
kemana ne…” begitu bunyi sms ku ke seorang sahabat yang biasanya menghabiskan
long wik N bersama. Biasanya kami menghabiskan long wikN dengan melakukan
kegiatan alam bebas. Entah ke Bromo entah rafting di sungai Pekalen
Probolinggo, atau ke Jojga. Aku dan sahabat-sahabatku punya kebiasaan itu sejak
masih sama-sama berkuliah di Malang.

“Wah..belum ada
rencana ne..ada ide?”jawab sahabatku. Tidak biasanya kami kehabisan ide untuk melewatkan
long wik N.

“Bagaimana kalau
bersantai saja di Surabaya..”usulku.

“Agendanya apa
saja?”

“Ya santai-santai
aja..nonton kek apa kek pokoknya santai..”

“Setuju. Pokoknya
santai aja ya..enjoy our life”

Karena biasanya  long wik N kami memang selalu dipenuhi kejaran
waktu. Bukan hal aneh, aku yang tinggal di Madura – 2 jam dari Surabaya- dan
sahabatku yang tinggal di Bojonegoro – 3 jam dari Surabaya, harus benar-benar
memperhitungkan waktu agar sepulang dari berlibur tidak kemalaman sampai di
rumah masing-masing. Bisa dibayangkan situasi ketika seharusnya jam 2 siang
sudah siap kembali ke Surabaya tapi justru masih di tengah jeram Dayung di
sungai Pekalen. Panik, tegang, waswas…Makanya wik N kali ini kita coba tak
terlalu jauh lokasinya, yang penting bisa menghabiskan waktu dengan santai…

Di lain Wik N,
aku habiskan di rumah di Sumenep.

“Long Wik N
dimana?”tanyaku lewat sms kepada sahabatku.

“Di rumah saja..mencoba
mencintai tanah kelahiran” balasnya yang membuat aku merenung.

Ya…mungkin itu
juga yang sedang aku lakukan saat ini. Belajar mencintai.

Karena sejak
hijrah lagi ke Madura setelah hampir 7 tahun menghabiskan waktu di Malang,
dalam sebulan berlibur di luar kota menjadi kebutuhan pokok. Setidaknya 1 wik N
dalam sebulan kuhabiskan di Surabaya atau Malang. Pernah dalam 1 bulan hanya 1
kali wik N aku habiskan di Sumenep.  Karena
di Madura tak ada hiburan?Karena tak ada tambatan hati?Karena tak ada toko  buku seperti Gramedia atau Toga Mas? Karena
tak ada mall seperti Matahari Surabaya atau Matahari Malang?Tak ada udara sejuk
seperti di Bromo?Tak ada tempat nongkrong senyaman di Kota Batu?atau..tak ada
teman – teman ‘gila’ seperti di luar kota sana??Hhhhhhh…banyak alasan memang.
Melewati tahun ke 2 di Madura belum membuat aku melupakan long wik N indah di
luar kota. Karena belum mencintai Madura?Karena masih belajar mencintai Madura?Entahlah..karena
sampai sekarang..aku masih tetap memetakan angka-angka berwarna merah di kalender.
 

Di Puncak Gunung

Thursday, April 7th, 2005

Tanpa sadar..aku
berada di puncak sebuah gunung..yang luas..tinggi sekali..bisa merasakan
gumpalan awan..Tapi angin kencang
sekali. Sampai-sampai sesekali aku harus berpegangan pada batu-batu besar yang
ada di puncak itu. Tak seperti di danau di bawah yang selalu terlindungi dari
angin.

Aku masih
terpana. Bagaimana aku bisa sampai disini??padahal baru kemarin aku masih
berlari, bermain, bernyanyi dan menghabiskan waktuku di pertengahan perjalanan
menuju puncak tertinggi. Tempat yang
indah..ada danau yang luas dan tenang disana.

Berada di
pertengahan gunung itu menjadi impian hampir semua orang. Terutama orang-orang
yang berada di kaki gunung. Dulupun aku seperti itu ketika masih di desa
terakhir. Melihat puncak yang begitu tinggi, tak pernah terbersit untuk
menjejakkan kaki di puncak itu. Terlalu tinggi, pasti lelah untuk mencapai
kesana. Makanya danau di pertengahan gunung itu menjadi tujuan akhir waktu itu.
Sudah banyak yang berada disana.

Dan sekarang aku
malah di puncak gunung. Tempat yang tak pernah aku inginkan, setidaknya dalam
waktu dekat ini. Karena sebenarnya yang aku inginkan justru kembali ke kaki
gunung, tidak lagi menjadi pendaki. Karena lelah sudah mengisi setiap ruang
otak. Entah angin apa yang sudah membawaku ke puncak ini. Terbayang kelelahan
luar biasa yang akan kujalani selama berada di puncak sini. Semakin jauh
rasanya kembali ke kaki gunung sana, lewat jalur manapun.

Memang dari ketinggian ini aku bisa melihat puncak gunung yang
lain..bisa melihat lebih banyak pemandangan..bisa melihat lautan luas..tapi
kaki gunung masih jadi impianku. Berharap angin atau awan atau air..akan
membawaku kembali kesana. Menjadi orang biasa. Thanks for being my friend, and makes me feel like an ordinary
people..as just the way i am.

"Dan Bila..aku disini…Bukan karena hebat dan Kuatku…"