Belajar Mencintai
Aku melirik
kalender yang tergantung di sisi kanan ruang kerjaku. Dalam bulan ini ada
tanggal berwarna merah cukup rapat dengan hari Sabtu. Itu berarti long wik N
yang perlu di rencanakan.
“Long Wik N
kemana ne…” begitu bunyi sms ku ke seorang sahabat yang biasanya menghabiskan
long wik N bersama. Biasanya kami menghabiskan long wikN dengan melakukan
kegiatan alam bebas. Entah ke Bromo entah rafting di sungai Pekalen
Probolinggo, atau ke Jojga. Aku dan sahabat-sahabatku punya kebiasaan itu sejak
masih sama-sama berkuliah di Malang.
“Wah..belum ada
rencana ne..ada ide?”jawab sahabatku. Tidak biasanya kami kehabisan ide untuk melewatkan
long wik N.
“Bagaimana kalau
bersantai saja di Surabaya..”usulku.
“Agendanya apa
saja?”
“Ya santai-santai
aja..nonton kek apa kek pokoknya santai..”
“Setuju. Pokoknya
santai aja ya..enjoy our life”
Karena biasanya long wik N kami memang selalu dipenuhi kejaran
waktu. Bukan hal aneh, aku yang tinggal di Madura – 2 jam dari Surabaya- dan
sahabatku yang tinggal di Bojonegoro – 3 jam dari Surabaya, harus benar-benar
memperhitungkan waktu agar sepulang dari berlibur tidak kemalaman sampai di
rumah masing-masing. Bisa dibayangkan situasi ketika seharusnya jam 2 siang
sudah siap kembali ke Surabaya tapi justru masih di tengah jeram Dayung di
sungai Pekalen. Panik, tegang, waswas…Makanya wik N kali ini kita coba tak
terlalu jauh lokasinya, yang penting bisa menghabiskan waktu dengan santai…
Di lain Wik N,
aku habiskan di rumah di Sumenep.
“Long Wik N
dimana?”tanyaku lewat sms kepada sahabatku.
“Di rumah saja..mencoba
mencintai tanah kelahiran” balasnya yang membuat aku merenung.
Ya…mungkin itu
juga yang sedang aku lakukan saat ini. Belajar mencintai.
Karena sejak
hijrah lagi ke Madura setelah hampir 7 tahun menghabiskan waktu di Malang,
dalam sebulan berlibur di luar kota menjadi kebutuhan pokok. Setidaknya 1 wik N
dalam sebulan kuhabiskan di Surabaya atau Malang. Pernah dalam 1 bulan hanya 1
kali wik N aku habiskan di Sumenep. Karena
di Madura tak ada hiburan?Karena tak ada tambatan hati?Karena tak ada toko buku seperti Gramedia atau Toga Mas? Karena
tak ada mall seperti Matahari Surabaya atau Matahari Malang?Tak ada udara sejuk
seperti di Bromo?Tak ada tempat nongkrong senyaman di Kota Batu?atau..tak ada
teman – teman ‘gila’ seperti di luar kota sana??Hhhhhhh…banyak alasan memang.
Melewati tahun ke 2 di Madura belum membuat aku melupakan long wik N indah di
luar kota. Karena belum mencintai Madura?Karena masih belajar mencintai Madura?Entahlah..karena
sampai sekarang..aku masih tetap memetakan angka-angka berwarna merah di kalender.