Bersyukurlah atas Karunia – Nya
Siang yang terik
Kota Pahlawan tak terlalu terasa ketika melintasi jalan Dr. Sutomo. Di jalan
itu aku sempat melihat sebuah papan nama griya perawatan kulit. Sebelumnya aku
bersama kawanku yang sekarang sedang aku bonceng di sepeda motor leter S,
sempat berdiskusi tentang tempat yang bagus untuk menangani gangguan kulit,
terutama wajah. Ada 2 tempat yang paling menarik dibahas. Dua-duanya terletak
di sekitar jalan Dr. Sutomo ini. Tapi aku tak ada niat untuk berhenti di salah
satu griya perawatan itu.
Di griya itu
setiap hari ada saja orang yang selalu ingin tampil lebih baik dari keadaannya
saat ini. Seorang resepsionis griya perawatan itu sendiri berbadan gemuk,
akhirnya menjadi model untuk sebuah produk perawatan pelangsingan tubuh. Itu
beberapa waktu yang lalu. Tapi sekarang badannya gemuk lagi karena memang tak
pernah olahraga dan mengatur makan.
Di lain waktu
seorang anak profesor dari Bali datang ke griya itu. Masih dengan masalah
kegemukan, gadis itu datang untuk sedot lemak. Tubuh gadis itu sudah terlalu
banyak ‘terkontaminasi’ peralatan operasi. Sebelumnya dia menjalani operasi
plastik penyempurnaan payudara.
Seorang berkulit
putih, langsing, cantik, dan tinggi, datang untuk kontrol setelah operasi plastik. Sekilas orang akan
bertanya, fisik sesempurna ini masih melakukan operasi plastik untuk apalagi???Ternyata dia ingin bisa
memakai baju tank top, yang mau tak mau harus menampakkan pusarnya. Sementara
pusarnya menurut istilah Jawa, ‘bodong’. Lain lagi dengan seorang perempuan
yang terkesan ‘ndeso’ karena penampilannya sangat tidak meyakinkan bisa datang
ke griya berbiaya tinggi itu. Perempuan itu penampilannya terlalu sederhana dan
tak terpikir oleh orang kalau perempuan itu punya niatan melakukan operasi
plastik. Berpakaian lusuh, rambut dikuncrit. Nyatanya….perempuan itu termasuk
pasien operasi plastik ‘tarik bibir’,
agar senyumnya bisa lebih menawan..
Masih di griya
itu, seorang perempuan ternama dari Madura datang didampingi 3 orang ‘body
guard’nya. Satu memegang tangan kanan, satu memegang tangan kiri, dan satu
khusus membawakan tasnya. Jenis operasi plastik yang dipilih cukup umum, ‘tarik
kulit’ wajah agar kulit tampak kencang. Tidak berkerut. Yang membuat orang
tertegun adalah di usianya yang menginjak kepala 8, perempuan itu masih sempat
memikirkan operasi plastik.
Biaya yang mereka keluarkan untuk sekedar merawat karunia Tuhan itu
tidaklah murah. Ratusan bahkan sampai jutaan rupiah rela mereka keluarkan. Demi
penampilan dan tentu saja decak kagum orang yang melihat. Atauuu…demi menjaga
agar suami mereka tidak lari ke pelukan wanita lain…Entahlah…Aku cuma
teringat pada seorang kerabat yang saat pernikahannya tak mau samasekali di make
up dan berpakaian ala pengantin pada umumnya. Karena ber make-up sama dengan
mengingkari karunia Tuhan katanya…Anyway..jangan lupa bersyukur atas karunia Nya..kemarin..hari ini..dan esok hari..kapanpun.