Every Day is Beautiful Day

Mendekati malam,
tak ada suara lain selain suara 5 orang dan suara alam.. 5 orang berpakaian
lusuh dan membawa beban berat di punggung yang sedang mencari-cari tempat untuk
camp. Sementara tanah memanjang tempat kelima orang itu berpijak lebarnya tak
lebih dari 5 meter. Setelah itu jurang menganga memisahkan puncak punggungan satu
dengan puncak lainnya. Kondisi tanah juga bukan tanah keras layaknya tanah
lapangan bola atau camping ground umumnya. Tanah disitu tertutup batang pohon Pakis
Kurung, sehingga setiap kaki berpijak serasa menginjak tumpukan rotan. Tapi tampaknya
itu adalah tempat paling layak untuk mendirikan tenda.

3 dari 5 orang
itu dengan sigap mendirikan tenda dan menyiapkan semua kebutuhan istirahat. Sementara
2 orang lainnya sibuk membidikkan kompas dan mencocokkannya di selembar peta
Gunung Anjasmoro. Dari tempat itu mereka memastikan sedang berada di sebuah sadel
diantara Puncak  Gunung Anjasmoro dan Gunung
Biru. Gunung Biru adalah target kelima orang itu, yang mereka targetkan sampai
disana esok hari. Mereka berada di gunung itu sejak kemarin siang. Semalam
mereka menginap di puncak Anjasmoro. Jarak dari puncak Anjasmoro ke tempat
mereka sekarang berada tak lebih dari 2 kilometer. Perjalanan menjadi sangat
lama karena mereka melalui jalur itu dengan membuka jalur baru. Karena memang
tak ada jalur konvensional antara Gunung Anjasmoro – Gunung Biru. Berbeda
dengan jalur menuju Gunung Anjasmoro, yang cukup terbuka dan biasa dilalui
orang.

Jalur menuju ke
tempat mereka mendirikan tenda sekarang cukup sulit, karena hampir semuanya
tertutup Pakis Kurung. Jenis tanaman yang batangnya seperti rotan dan merambat.
Pisau tebas yang dibawa tim itu  tidak
terlalu ampuh menaklukkan batang Pakis Kurung. Akhirnya sesekali mereka harus
mengalah dengan merangkak dibawah ‘kanopi’ Pakis Kurung itu. Sesekali mereka
juga harus membuat instalasi mountaineering untuk bisa melalui jalur yang
terlalu terjal.

Puncak Gunung
Biru tak seperti Puncak Gunung Anjasmoro atau puncak-puncak gunung lainnya. Tak
ada triangulasi, tak ada tanda-tanda apapun yang menunjukkan itu adalah puncak
gunung. Yang meyakinkan kelima orang itu hanyalah interpretasi bentukan alam, kontur
di peta, dan hasil bidikan kompas. Dua titik bidik yang dijadikan acuan adalah
Puncak Anjasmoro dan sebuah puncak kecil tak jauh dari puncak Gunung Biru yang terbaca
di peta keluaran Belanda itu. Kelima orang itu sampai sekarang meyakini telah
mencapai puncak Gunung Biru.

**

Meski tak terlihat jelas mana puncak Gunung Biru mana Puncak Anjasmoro,
dari kejauhan aku yakin, salah satu bagian deretan pegunungan di seberang
lautan itu pernah aku jelajahi bersama 4 rekan lainnya. Memandangi deretan
pegunungan itu dari jendela bis patas yang sedang melintasi pesisir selatan Madura,
menimbulkan sensasi tersendiri. Terlihat jelas deretan pegunungan berjajar
indah mulai dari Anjasmoro-Biru-Penanggungan-Arjuno-Welirang-dan pegunungan
Bromo yang menyatu dengan birunya langit dan lautan Selat Madura, nyaris
seperti lukisan. Rasanya tak mungkin kembali menjelajahi deretan pegunungan itu
bersama 4 rekan yang lain. Membuka jalur lagi, mendirikan tenda lagi, membidikkan
kompas lagi, membawa beban lagi. Aku tersenyum. Meski waktu itu terasa berat
dan melelahkan, sekarang cukup indah untuk dikenang. Aku juga tersenyum untuk
hari ini, yang nanti mungkin akan menjadi indah untuk dikenang.

Leave a Reply