I Love Monday
Jam dinding belum
sampai menunjuk angka 6 pagi. Mataku terbuka bersamaan dengan telingaku yang
samar mendengar suara berisik di dapur. Suara benda digoreng di minyak panas,
suara gemericik air, dan suara denting piring yang beradu dengan piring
lainnya. Sepagi ini Mama sudah sibuk di dapur. Masakan apa lagi yang disiapkan
khusus bekal putri-putrinya Senin pagi ini?
“Mbak, iki
icipono…”Mama menyodorkan sendok makan berisi kuah semur di ujungnya.
Sejak mama tidak
lagi mengalami menstruasi, setiap Senin Kamis Mama rutin berpuasa. Tapi puasa
tidak mengurangi semangatnnya menyajikan masakan kaya rasa di Senin pagi. Untuk
sarapan 2 putrinya yang selalu berangkat jam 7 pagi untuk bekerja di luar kota.
Semangat Mama
inilah yang membuat aku menyadari betapa hebatnya dia. Bukan wanita karier
seperti wanita jaman sekarang pada umumnya (tidak juga seperti 2 putrinya
sekarang), dan tidak ikut organisasi apapun kecuali dasa wisma dan pengajian
Al-Hidayah. Bukan cuma urusan masak yang patut diacungi jempol. Sejak aku kecil
Mama sering membuatkan pakaian. Sampai sekarang aku masih sering meminta Mama
menjahitkan baju untuk kesempatan khusus, pernikahan teman misalnya. Mama tak
pernah komplain meski ‘order’ membuat pakaian datang H-3 acara khusus itu.
Kegigihan Mama tiba-tiba membuat aku ingin menjadi seperti dirinya. Yang
tidak disibukkan urusan kantor, yang tidak disibukkan keluh kesah karyawan,
yang tidak disibukkan trouble jaringan komputer dan kesibukan-kesibukan lainnya
di luar kerumah tanggaan. Karena tuntutan pekerjaan tidak lagi memberi aku
kesempatan menyiapkan kebutuhanku sendiri. Terpikir, rasanya sulit menjadi
seperti Mama tanpa harus meninggalkan pekerjaan. Terpikir, untuk meninggalkan
pekerjaan suatu saat nanti dan secara total mengabdi hanya untuk rumah tangga.
Apakah cita-cita’ itu terlalu tinggi???Aku tak tahu… Yang aku tahu
pasti..keinginanku untuk menjadi seperti Mama tidak akan pernah didukung oleh
Mama.