BAITI JANNATI
Lonceng jam masjid Agung
Sumenep berdentang 5 kali. Suaranya syahdu memecah pagi yang dingin. Jalanan
masih senyap, yang terdengar hanya langkah kaki dan sesekali roda sepeda
melintas. Aku memacu langkahku ke Alun-alun kota. Alun-alun tanpa pagar tepat
di depan masjid Agung itu masih terlihat sepi. Kupercepat langkahku
mengelilingi alun-alun yang biasa disebut ‘Taman Bunga” itu. Taman Bunga ini
dulunya hanya berupa tanah lapang berumput biasa, berpagar besi setinggi 1
meteran, bercat kuning pula. Pameran atau sirkus dulunya digelar di tempat itu,
otomatis banyak sekali kaki lima di sekeliling lapangan itu. Sebelum menjadi
taman penuh bunga seperti sekarang, alun-alun itu pernah beberapa kali berganti
konsep. Terutama pagar.
Berlari mengelilingi taman
bunga ini sebenarnya tak terlalu melelahkan, karena kelilingnya tidak lebih
luas dari lapangan luar Stadion Gajayana Malang. Tapi entahlah..mungkin aku
yang sudah lama tak berolahraga jadi terasa agak berat melangkahkan kaki. Taman
mulai ramai didatangi warga yang sengaja menghabiskan minggu paginya di Taman
Bunga. 2 putaran lari dan 2 putaran jalan kaki cukuplah mengobati kerinduanku
berolahraga pagi itu. Kutinggalkan taman bunga tepat di jantung kota Sumenep
itu.
Berjalan menyusuri jalanan
menuju rumahku terasa nuansa yang berbeda. Karena memang hampir 10 tahunan aku
tak pernah berjalan kaki melewati ruas jalan aspal selebar 3 meteran itu. Udara
belum terasa panas ketika memasuki jalanan berbatu menuju rumahku, ketika
kembali terdengar dentang lonceng jam dari masjid Agung sebanyak 6 kali. Selain
matahari belum terlalu tinggi, di sekitar jalanan itu masih banyak tanaman
tinggi yang dibiarkan tumbuh begitu saja. Pohon Palem, Pinang, kelapa, mangga
dan masih banyak lagi tanaman peneduh lainnya. Memasuki halaman rumah tak berpagar
warisan keluarga besar ayahku,
terdengar jelas suara burung yang bersahutan. Burung perkutut, burung dara, dan
burung tekukur. Serasi sekali dengan aroma bunga kemuning yang menyeruak ketika
aku menginjakkan di teras rumah yang hanya berlantai semen. Sejenak aku menoleh
ke sumber aroma itu, tepat di sudut kiri teras. Yang tampak dari teras hanya
batang pohon itu dan warna putih ungu
cukup mencolok diantara gelapnya batang pohon kemuning. Bunga 2 jenis anggrek
kesayangan ibuku benar-benar menyita perhatian siapapun yang berada di teras
itu.
Sebelum menikmati teh panas
buatan mama dan sarapan nasi sambal goreng ‘Saripa’, kuniatkan berganti pakaian
dan cuci tangan dan kaki dulu. Angin pagi yang masuk dari jendela seperti di
rumah-rumah betawian membuatku sedikit lebih segar. Aku sempatkan melongok
keluar jendela. Dari situ aku bisa melihat ayam-ayam yang dibiarkan lepas di
lahan seluas 10 meter persegi. Masih teduh juga disekitar situ, karena 3 jenis
pohon mangga dan 1 pohon kenitu berdiri kokoh diluar jendela. Suara sendok
beradu dengan piring membuat langkahku semakin cepat menuju kamar mandi. Kamar
mandi yang terang benderang oleh sinar matahari pagi itu, karena memang atapnya
berupa plastik fiber bening, dan bak mandi yang berisi air bening juga, menggoda
aku untuk mandi saat itu juga. Tapi perutku mengiba ”mandinya nanti saja…”.
Mengakhiri ritual pagiku,
sarapan pagi nasi sambal goreng ‘Saripa’ berbungkus daun pisang, teh manis
tubruk khas Jogja, bersama keluargaku di ruang makan sekaligus ruang keluarga.
Sebuah ruangan yang masih juga bermandikan cahaya matahari pagi, yang masuk
menabrak kaca besar berbingkai kusen kayu bercat hijau. Benar-benar nikmat untuk menghilangkan kejenuhan..