The Powerless Master of Science

Namanya
sederhana.

Belum genap 30
tahun usianya.

Berkulit hitam
gelap.

Bertubuh pendek,
berambut cepak.

Gesit.

Selain namanya
sendiri, total ada 4 embel-embel di depan dan di belakang.

H untuk haji yang
sudah dilaksanakannya 2004 lalu.

2 embel-embel di depan namanya menandakan dia lulusan Teknik Kelautan Institut Pertanian Bogor dan melanjutkannya ke strata lebih tinggi lagi, Doktor Insinyur.

Satu lagi
embel-embel Master of Science yang diraihnya belum lama ini dari sebuah
perguruan tinggi ternama di Australia.

Angin laut
pesisir selatan Madura tampak tenang mendengarkan keluhannya malam itu.

Ketidakberdayaannya
memperbaiki nasib nelayan di sekitarnya.

Ketidakmampuannya
membuat pemerintah setempat yakin dengan parahnya kondisi laut selatan Madura.

Suara tabuhan
tradisional dari arena pagelaran ruwatan desa malam itu sesekali menenggelamkan
suaranya yang mengungkap keinginan tidak akan pernah menyalahkan budaya.

Atraksi budaya
yang digelar dengan biaya 40 juta rupiah lebih malam itu, diharapkan nelayan
mampu mendatangkan ikan ke laut selatan Madura. Tak masuk di akal menurut sosok
yang kerap menjadi pemateri di seminar-seminar kelautan tingkat regional maupun
Nasional ini.

50 meter dari
arena tabuhan..ratusan perahu dengan hiasan meriah parkir di tepi pantai.
Perahu-perahu yang hanya bisa menjaring ikan dari perairan timur Madura. Karena
ikan-ikan sudah enggan berenang-renang di perairan selatan Madura.

And The Master of Science has no power to change these all conditions.

Leave a Reply