Archive for June, 2005

Optimis

Wednesday, June 22nd, 2005

Kegagalan itu hal biasa…dalam hidup ini..

Setiap
orang pasti punya..

Masalah dan
Masa lalu..

Teman …hidup ini hanya satu kali..

Teman untuk apa kita menyiksa diri…

Hadapilah semua…kenyataan yang ada…

Serta
raihlah cita-cita…hidup bahagia…

 

Aku suka
lagu ini…Yang aku tahu pernah dinyanyikan Atiek CB dan AB Three.

Optimis, dan benar-benar membuat aku berpikir hidup ini
benar-benar harus optimis..

Buat apa dibuat susah..

 

Kalo aku lagi sedih..atau BT aku biasa menyanyikan lagu ini…

Trus liriknya aku ucapkan pelan..pelan…Biasanya juga
langsung sedikit tenang..

Dan ketenangan itulah yang penting untuk membantu aku
menyelesaikan permasalahan.

Dengan ketenangan itu..kepala jadi jernih..Ketika
jernih..ion-ion positif akan bermunculan..dan optimis akan kembali datang..

 

So..jangan pernah putus asa..apalagi sampai mencoba bunuh
diri..

Karena kegagalan itu hal biasa…

That’s Why I Love Travelling

Monday, June 6th, 2005

Beberapa bulan
terakhir..ada jarak antara aku dengan dunia jurnalistik. Aku melihat dunia itu
dari luar dan hanya sesekali saja melongok dari pintunya untuk memastikan yang
didalam baik-baik saja…

Tapi sebuah
perjalanan singkat membawa aku kembali ke dunia itu..membuat aku yakin dunia
itu masih seindah dulu..lebih indah malah…Hanya dalam sehari beberapa ruang
terlewati sekaligus.

(1)*Sebuah ruang
politik yang menggambarkan keindahan demokrasi terkini. Ruang yang juga
menegaskan sebuah penghormatan hak-hak privasi publik. Ruang yang menyimpan
harapan masa depan yang lebih baik.

Menyebrang ke
(2)* sebuah ruang bernuansa religius. Kehadiran tokoh agama berbudaya di ruang
itu seperti mengobati kerinduanku akan kalimat-kalimat sakti. Ruangan itu juga
membuktikan, betapa agama telah seenaknya dijadikan alat berpolitik, entah
melalui ayat – entah melalui gelar sakti rohaniawan – entah banyak lagi lainnya
..yang tanpa disadari sebenarnya bukan harapan rakyat. Agama adalah
agama..politik adalah politik..meskipun agama tidak melarang berpolitik.

(3)*Ruang
berikutnya yang aku masuki, kaya ornamen artifisial tradisional. Sebuah ruang
yang juga menyimpan harapan besar dari hasil persemaian benih bernama
demokrasi. Ruangan ini sepertinya juga menyimpan kekuatan natural untuk bisa
tetap bertahan ditengah derasnya kehadiran benda-benda import kontemporer. (4)*
Ruangan itu bersisian dengan sebuah ruangan luas masih menampilkan nuansa
tradisional. Tapi kali ini lebih atraktif..lebih hidup..dan bernuansa sangat
kerakyatan. Padahal instrumen dalam ruangan itu bisa dibilang bukan murahan..

(5)*Menjelang
pintu keluar dari dunia itu..pemandangan menakjubkan membuat aku terpaku dan
enggan menjauh dari dunia itu. Hanya sebuah landscape. Tapi komplit karena
menghadirkan berbagai dimensi unsur dan warna..Unsur air berwarna biru
cerah..nyaris tanpa batas dengan langit yang hanya memberi segaris ruang untuk
cahayi matahari mencapai muka air. Semuanya dibingkai indah oleh hijaunya
daratan yang rimbun. Dan mataharipun tenggelam..seperti menutup pintu dunia
itu.

 *

(1) Suatu rangkaian kampanye Pilkadal di
kabupaten Sumenep

(2) Sebuah acara diselipi ceramah KH. Mustofa
Bisri di kabupaten Sumenep

(3) Sebuah pusat kerajinan ukiran di kabupaten
Sumenep

(4) Sebuah arena latihan sape sono’ di
kabupaten Sumenep

(5) Perjalanan melintasi perbukitan Selatan
kabupaten Sumenep