Mati Muda
“Orang yang
paling beruntung adalah orang yang mati muda.
Maka berbahagialah
orang yang mati muda…”
Hanya kalimat itu
yang tersimpan dalam memoriku setelah nonton bareng GIE di kota Malang Jumat 22
Juli 2005, setelah menyelesaikan tugas kantor mengikuti kegiatan Disnaker
Pemprov Jawa Timur. GIE atau Soe tokoh yang aku kenal karena kematiannya di
gunung tertinggi di Jawa, Semeru. Bukan karena sepak terjangnya di dunia
pergerakan mahasiswa. Setelah nonton aku dan kawan-kawan lamaku membahas
jatuhnya pesawat latih Bronco di sekitar Jabung kabupaten Malang. Fokusnya tentang
proses evakuasi.
Minggu 24 Juli
2005. Pagi di rumahku. Aku membuka halaman muka koran Jawa Pos. Di bagian
feature ada kisah pilot korban jatuhnya pesawat latih Bronco Kamis sebelumnya.
Harchus namanya. Tak kubaca tuntas kisah itu, meski sempat kulihat foto prosesi
pemakaman di halaman sambungannya. Siang, ibuku membicarakan tentang kisah di
koran itu.
“ Korbannya
pesawat itu..anaknya guru besar Peternakan Brawijaya..”
“He’eh..”jawabku
pendek
“Udah keterima
PMDK Kedokteran Brawijaya gak diambil malah ikut Akmil..”
“He’eh..”jawabku
lagi.
“Jeneng e..Harchus..”
“He’eh..”
Tiba-tiba saja
aku teringat sahabatku semasa kuliah di Pertanian Brawijaya dulu.
“Jangan-jangan
adiknya Kikin…..tapi ibunya dosen
Peternakan..bapaknya emang udah meninggal seh..”ujarku seraya mengambil halaman
utama koran Minggu.
Mudah-mudahan
bukan…batinku..
Saat membaca
bagian sambungan feature itu..aku temukan kutipan wawancara yang menyebutkan
Kikin sebagai narasumber kakak korban. Masih kuingat betul sebuah stiker Taruna
Nusantara yang diberikan Kikin padaku, atau ketika Kikin bercerita akan
menghadiri upacara kelulusan adiknya dari Akademi Angkatan Udara.
Menyesal sekali
aku setelah membaca koran itu..Karena di hari yang sama dengan jatunya pesawat
itu sampai pemakaman, aku masih berada di Malang. Waktu itu terbersit untuk menghubungi
Kikin, orang kampus yang paling tahu tentang jatuh bangunnya aku melewati masa
kuliah, satu-satunya orang kampus yang masih berhubungan meski hanya lewat
surat elektronik. Tapi entah kenapa..terlewatkan begitu saja.
Kembali teringat
bagian akhir film garapan Riri Riza. Di tepi pantai yang sedang redup, GIE
menegaskan..
“Berbahagialah orang yang mati muda…”