When The Republic Reborn

Keinginanku untuk
menjadi bagian dari event ‘woodstock’nya Indonesia sudah terpendam sejak tahun
2003. Event pertama di Indonesia itu terlewatkan karena sesuatu dan lain hal.
Di kesempatan kedua, Event itu lagi-lagi terlewatkan. Event ketiga yang masih
dalam suasana euforia kemerdekaan RI, akhirnya keinginan itu terkabulkan.
Dengan segala upaya dan resiko, kulepaskan kerinduan ‘menjadi diri sendiri’ di
arena Bumi Marinir Aloha Gedangan – Sidoarjo (panitia dan media menyebutnya Surabaya)
Minggu kemarin. Ketika memasuki pintu masuk berlapis 3 pengaman, terbayang
kehebohan konser group band – group band papan atas, dan tentu saja kehebohan
penontonnya.

Sambil menunggu
waktu band papan atas tampil di 2 stage utama, aku menjajal beberapa extreme
games yang disediakan panitia. Suara mesin helikopter Sampoerna yang
berseliweran melayani pekerja media di atas sana, nyaris tak terdengar karena
saking kuatnya sound system masing-masing pos layanan yang disediakan panitia.

Selepas magrib,
rasanya pesta baru benar-benar dimulai. Selain karena peserta benar-benar
padat, penampilan para artis saat itu benar-benar yang ditunggu. Bulan yang
sinarnya tak mampu dikalahkan lighting panggung sempat disapa oleh seorang
penyanyi gaek yang malam itu tampil dengan kaos biru, “Lihat tuh bulannya
indah…”

Kemudian kalimat
demi kalimat yang mengisahkan ‘Wakil Rakyat’ meluncur disambut koor penonton.
Diantara dentingan gitarnya, aku mencoba memahami makna kalimat itu. Sederhana.
Tapi cukup membuat kuping sang wakil rakyat panas. Dan masih banyak
kalimat-kalimat pedas lainnya yang khusus disampaikan dalam event yang
memanfaatkan peringatan 60 tahun Indonesia Merdeka.

Bukan cuma
‘pemilik’ OI saja, group band yang disebut panitia sebagai ikon-nya Indonesia
yang menjelang tengah malam menutup ‘wood stock’ Indonesia juga dengan
kalimat-kalimat bernuansa patriotis..tapi romantis. Rangkaian kalimat dalam
karya “Generasi Biru” menjadi sangat nasionalis karena diawali oleh suara Bung
Karno membacakan proklamasi Kemerdekaan RI. Sebuah band ‘tua’ yang juga tampil
di acara yang identik dengan anak muda
itu, nyaris tampil total dengan ‘petuah-petuah bijak’nya. Panggung Sandiwara,
Menjilat Matahari, Semut Hitam, Kehidupan. Sebuah group asal Bandung yang selalu
tampil dengan kostum berwarna hitam juga tampil memukau dengan kalimat-kalimat
yang mengandaikan dia jadi Raja. Tinggal menjentikkan jari!

Entahlah..lirik-lirik
yang mereka ciptakan begitu indah..Bukan cuma indah pada masanya, tapi sampai
sekarangpun masih terasa indah. Kuat oleh makna. Tidak ada kesan cengeng. Para
artis senior itu juga cukup prima tampil dihadapan 70 ribu lebih penonton (kata
pantia ini rekor). Sambil melangkah pergi menjauhi panggung utama, terbersit
kesan. Mereka hebat, orang Indonesia hebat, musisi Indonesia hebat. Benar kata
pelantun ‘Bongkar’ tadi..Kita harus tunjukkan pada dunia luar, kalau kita ini
sanggup, kalau kita ini mampu, kalau kita ini hebat..Dan para pejabat, wakil
rakyat, janganlah selalu ingin gaji meningkat.. sementara rakyat melarat…


Catatan kecil
Minggu 21 Agustus 2005, dari Arena A Mild Live Soundrenaline 2005, Reborn Republic

Leave a Reply