Archive for September, 2005

Oalah BBM….

Thursday, September 29th, 2005

Seperti mengejar
matahari, sepeda motor dipacu dengan kecepatan tinggi, meninggalkan pantai
berpasir putih di Sumenep. Langit mulai meredup dan semu merah, pertanda
sebentar lagi gelap gulita. Sesekali aku menoleh ke belakang untuk memastikan
temanku yang lain tidak salah jalan. Maklum, mereka baru kali ini ke
Sumenep…jauh-jauh datang dari Sidoarjo. Tepat di sebuah perempatan, aku
putuskan untuk menunggu temanku itu. 5 menit menunggu, datang sebuah Sandek
(baca SMS)”Aku kehabisan bensin..Balik bawa bensin..”

Otomatis aku dan
joki mengitari ruas-ruas perempatan untuk membeli bensin eceran. Aku lihat
setiap 5-10 meter ada kios bensin. Tapi hasilnya nihil, karena kios-kios itu
memajang botol-botol kosong. Akhirnya sepeda motor tanpa bensin itu didorong
dengan sepeda motor lain sampai menemukan kios yang masih punya persediaan
bensin. Karena SPBU terdekat masih sekitar 20 kilometer lagi. Dengan lihai
jokiku menjejakkan kakinya di foot step belakang bangkai besi itu, sementara
kecepatan kendaraan tak kurang dari 60km/jam. Sesekali kakinya pindah ke bagian
belakang jok.

Setelah 20 menit
mentandem sepeda motor, ketemu juga kios yang memajang botol Topi Miring berisi
bensin. Tampaknya baru saja diisi, karena sebuah jerigen ukuran 20 literan
masih ada di sekitar kios itu.

“Kok kosong semua
Bu..bensinnya?” kutanyakan pada pemilik kios yang sedang menuang 2 botol bensin
@Rp.3000,-. Aku tidak keberatan membayar dengan harga jauh dari yang di SPBU,
daripada dorong 20 kilometer lagi….Lagipula wajar pedagang itu menaikkan
harga segitu, untuk transport angkut dan uang lelah antri mungkin…

“Iya mbak,
sekarang dijaga polisi di POM..Ini saja saya antri mulai duhur..”

Hmm..dampak UU
Migas ne..pikirku..Sepanjang perjalanan
yang mulai gelap, aku membayangkan..seandainya tidak ada kios itu tadi, pasti
kami masih mendorong ‘bangkai besi’ itu sampai di SPBU terdekat (20 kilometer
bo…..)

Di SPBU terdekat,
antrian sudah tampak. Sepeda motor, pickup, mobil-mobil kelas sedan, truk, dan
becak-becak yang memuat jerigen juga ikut antre. Melihat becak itu aku cuma
berpikir..ah..mereka berusaha mendekatkan BBM dengan konsumen. Meskipun mungkin ada diantara mereka yang berniat
‘menimbun’ untuk  persiapan kenaikan
harga BBM 1 Oktober 2005.

Becak-becak itu
masih beruntung, pemilik kios masih beruntung, sopir-sopir itu masih
beruntung..karena hanya perlu antri dalam hitungan jam. Aku gak bisa bayangkan
warga di kepulauan yang harus menunggu BBM (yang telat sampai di SPBU),
sementara BBM yang akan dikirim ke pulau itu ditahan polisi di pelabuhan karena
dianggap penyaluran BBM illegal.

Jam belum juga
sampai di 8.30 malam, ketika mengantar teman-temanku ke terminal Wiraraja
Sumenep. Niatku mengganti bensin yang terpakai sepanjang perjalanan ke pantai
tadi. Sekitar 2 literan. Ternyata SPBU di kota sudah tutup, meski disitu
jelas-jelas tertulis buka 24 Jam. Tak jauh dari SPBU, sebuah kios menjual
bensin 2500 an per liter (kok bisa…). Tak ada polisi di sekitar situ.

Besoknya..di Pamekasan..kulihat antrian semakin menggila. Pagi-pagi
mobil parkir berjejer 2 kilometer dari pintu masuk SPBU. Karena sepeda motor
‘dinas’ku nyaris kosongan tanki bensinnya, jadilah beli bensin eceran. 5000/liter! Harga di pusat kota, hanya sekitar 3 kilometer dari SPBU teramai di Madura.
Hari itu juga aku baca info di milis, rencana kenaikan BBM salah satu upaya menjatuhkan Presiden sekarang. Wow..aku bukannya tak setuju dengan jatuh menjatuhkan pemimpin yang sekarang jadi trend di Indonesia, tapi aku tak suka dengan memakai BBM sebagai alat. Sangat kep#*@t!
Apa yang bakal terjadi tanggal 1 Oktober nanti??
Sudah saatnya beralih ke kendaraan bebas BBM???

Marhaban Ya Ramadan

Monday, September 19th, 2005

Setelah 2 kali
akhir pekan di bulan September aku habiskan di luar kota, minggu ini aku
putuskan untuk habiskan di rumah. Tanpa sadar, aku pikir timingnya tepat.
Karena ternyata bertepatan dengan malam Nishfu Sya’ban. Sebuah malam yang dalam
tradisi Madura orang saling bersilaturahim dan bermaafan.

Minggu selepas
Magrib, setelah sholat magrib aku mencari-cari surat Yasin yang biasanya
tergeletak di sekitar musholla. Tapi tak ada, makanya kubatalkan membaca surat
Yasin selepas Magrib.

Ketika bersantai
di depan tv, sebuah sms kuterima, “Sebentar lagi malaikat Hafadhoh akan
melaporkan tentang amal manusia kepada Sang Khaliq dalam 1 tahun. Maka ampunkan
segala khilaf dan dosaku, Semoga Allah senantiasa memaafkan Qta semua. Amien”

Sebuah sms yang
membuat aku tertarik memforwardnya ke beberapa rekan, dan mengingatkan aku pada
hal-hal sakral di malam Nishfu Sya’ban. Maka aku forward ke beberapa rekan dan
saudara, yang aku pikir mereka paham dengan makna sms itu. Ternyata tak
semuanya merespon seperti yang aku pikirkan.

“Wis tobat ta
Rek..?” balas seorang kawan yang aku kenal sangat taat beribadah.

“Sik ta la Yan, iki
dalam rangka peringatan opo?” balas kawan lainnya yang biasanya suka mengirim
sms ketika ada peringatan agam Islam.

Respon dari 2
sahabat itu membuat aku sadar, mungkin hanya orang disekitarku saja yang punya
tradisi khusus di malam Nishfu Sya’ban.

Tak lama kemudian
datang sms balasan dari seorang Om di Surabaya ,” Aku dah baca yasin 3x, kamu
gemana?Dan diteruskan doa nishfu sya’ban, bagusnya berjamaah”. Aku sedikit lega.

“Assalamualaikuuuumm…”
tiba-tiba suara ramai mengucap salam masuk ke ruang keluarga lewat pintu
samping..Segerombolan anak kecil dari rumah sebelah timur rumahku datang untuk
bersilaturahim. Mereka mencium tangan Mamaku, Papaku, dan aku. Setelah meraka
pulang, kembali suara anak-anak kecil mengucap salam. Kali ini anak-anak
tetangga sebelah barat rumah yang masuk lewat pintu depan. Mereka juga mencium
tanganku, Mamaku dan Papaku. Mereka kemudian berlalu dan melanjutkan ke rumah
berikutnya. Persis seperti lebaran. Bedanya tanpa baju baru, tanpa kue-kue, dan
di malam hari tentu saja.

Aku sendiri
bermaafan dengan orang rumah dan kerabat dekat saja. Tentang malam Nishfu
Sya’ban, sampai sekarang aku mempercayai..(seperti yang pernah dibisikkan
sesepuhku dulu)…pada malam Nishfu Sya’ban selepasa Isya’ tak ada angin
berhembus, dedaunan diam, alam raya juga tenang, karena pada malam itu Nabi
Muhammad SAW sedang berceramah. Dan seluruh alam semesta tediam mendengarkannya
(kecuali manusia tentu saja..). Menjelang larut malam sebuah sms kembali
mengingatkan aku untuk menjalankan niat, minimal membaca 1x surat Yasin dan Doa Nishfu Sya’ban,”Rasul
bersabda:Malam ini adalah pertengahan Sya’ban. Sesungguhnya malam ini Allah SWT melihat hambaNya..Dia akan
melimpahkan rahmad dan ampunan kepada hamba yang meminta. Semoga kita semua
diampuni Amien.”

Apapun makna
malam Nishfu Sya’ban, aku ucapin Selamat Menyambut Ramadan 1426 H, semoga
diberi kekuatan menjalani ibadah sampai 1 Syawal 1426 H. Mohon Maaf Lahir
Batin.

I LOVE/HATE MONDAY

Sunday, September 11th, 2005

Monday…

Awalnya buat aku Monday itu hari menyenangkan, karena aku bisa mulai
berkreasi lagi..dan mengaktualisasikan diri.

Tapi..sejak September ini..

Setiap menjelang Monday..aku selalu resah dan kebingungan. Karena harus
memilih-milih pakaian khusus ke kantor. Gak seperti Tuesday – Wednesday – Thursday
– Friday apalagi Saturday..Di Monday karyawan di perusahaanku harus pake rok. Aku
bingung karena rok yang menjadi propertiku 2 potong saja, dengan warna gelap
semua. Masalah biasa atau nggak pake rok, aku pikir bisa dibiasakan. Meski
setiap pulang kantor..belahan rok itu ada saja yang sobek. Kareeeenaaaa aku
masih kesulitan mengendarai sepeda motor dengan pakaian rok (yang cukup
sempit).

Tapi ya..’aturan’ baru perusahaan ini, aku coba ambil positifnya saja..Kalo
gak hari Senin kapan lagi aku tampil seperti layaknya perempuan..Meski
kesulitan..aku juga tertantang untuk menambah persediaan rok ku..sepatu.. atau
blus..yang nuansanya sangat perempuan.. ;)


Catatan
Monday 12 September 2005, try to enjoy dengan rok panjang dark blue buatan
Ibunda, blus senada ‘Batik Keris’, sepatu datar warna hitam ‘Buccheri’.
 

Hidup Ini Indah…

Monday, September 5th, 2005

Entah
kenapa aku harus mengatakan ini, hidup ini indah..

Yang
pasti aku sangat menikmati kegiatan yang aku ikuti 2-4 September lalu di Bromo,
Ranu Pane, Malang, dan Batu. Bisa jadi karena memang sudah lama aku menunggu
waktu untuk menyapa alam. Bisa jadi karena sudah lama juga aku ingin bertemu
dengan sebuah komunitas yang beda. Bisa jadi karena orang-orang dalam komunitas
itu bisa membuat aku merasa menjadi diri sendiri. Aku bisa menyapa kabut,
menyapa angin gunung, melihat birunya langit, hijaunya hutan, dan aku bisa
tertawa lepas.

Ditengah
tawa yang lepas, seorang kawan mengingatkan,”ingatlah saat susahmu ketika kamu
senang”.Ungkapan itu tidak lantas membuat aku berbalik jadi sedih. Tapi justru
aku membuat tertawa dengan lebih iklas..haha..istilah untuk mewakili sesuatu
yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Apapun yang terjadi disana, aku
tetap pengen bilang, hidup ini indah…

Catatan kecil dari Sepeda Jelajah Nusantara 5,2-4 September 2005