Marhaban Ya Ramadan
Setelah 2 kali
akhir pekan di bulan September aku habiskan di luar kota, minggu ini aku
putuskan untuk habiskan di rumah. Tanpa sadar, aku pikir timingnya tepat.
Karena ternyata bertepatan dengan malam Nishfu Sya’ban. Sebuah malam yang dalam
tradisi Madura orang saling bersilaturahim dan bermaafan.
Minggu selepas
Magrib, setelah sholat magrib aku mencari-cari surat Yasin yang biasanya
tergeletak di sekitar musholla. Tapi tak ada, makanya kubatalkan membaca surat
Yasin selepas Magrib.
Ketika bersantai
di depan tv, sebuah sms kuterima, “Sebentar lagi malaikat Hafadhoh akan
melaporkan tentang amal manusia kepada Sang Khaliq dalam 1 tahun. Maka ampunkan
segala khilaf dan dosaku, Semoga Allah senantiasa memaafkan Qta semua. Amien”
Sebuah sms yang
membuat aku tertarik memforwardnya ke beberapa rekan, dan mengingatkan aku pada
hal-hal sakral di malam Nishfu Sya’ban. Maka aku forward ke beberapa rekan dan
saudara, yang aku pikir mereka paham dengan makna sms itu. Ternyata tak
semuanya merespon seperti yang aku pikirkan.
“Wis tobat ta
Rek..?” balas seorang kawan yang aku kenal sangat taat beribadah.
“Sik ta la Yan, iki
dalam rangka peringatan opo?” balas kawan lainnya yang biasanya suka mengirim
sms ketika ada peringatan agam Islam.
Respon dari 2
sahabat itu membuat aku sadar, mungkin hanya orang disekitarku saja yang punya
tradisi khusus di malam Nishfu Sya’ban.
Tak lama kemudian
datang sms balasan dari seorang Om di Surabaya ,” Aku dah baca yasin 3x, kamu
gemana?Dan diteruskan doa nishfu sya’ban, bagusnya berjamaah”. Aku sedikit lega.
“Assalamualaikuuuumm…”
tiba-tiba suara ramai mengucap salam masuk ke ruang keluarga lewat pintu
samping..Segerombolan anak kecil dari rumah sebelah timur rumahku datang untuk
bersilaturahim. Mereka mencium tangan Mamaku, Papaku, dan aku. Setelah meraka
pulang, kembali suara anak-anak kecil mengucap salam. Kali ini anak-anak
tetangga sebelah barat rumah yang masuk lewat pintu depan. Mereka juga mencium
tanganku, Mamaku dan Papaku. Mereka kemudian berlalu dan melanjutkan ke rumah
berikutnya. Persis seperti lebaran. Bedanya tanpa baju baru, tanpa kue-kue, dan
di malam hari tentu saja.
Aku sendiri
bermaafan dengan orang rumah dan kerabat dekat saja. Tentang malam Nishfu
Sya’ban, sampai sekarang aku mempercayai..(seperti yang pernah dibisikkan
sesepuhku dulu)…pada malam Nishfu Sya’ban selepasa Isya’ tak ada angin
berhembus, dedaunan diam, alam raya juga tenang, karena pada malam itu Nabi
Muhammad SAW sedang berceramah. Dan seluruh alam semesta tediam mendengarkannya
(kecuali manusia tentu saja..). Menjelang larut malam sebuah sms kembali
mengingatkan aku untuk menjalankan niat, minimal membaca 1x surat Yasin dan Doa Nishfu Sya’ban,”Rasul
bersabda:Malam ini adalah pertengahan Sya’ban. Sesungguhnya malam ini Allah SWT melihat hambaNya..Dia akan
melimpahkan rahmad dan ampunan kepada hamba yang meminta. Semoga kita semua
diampuni Amien.”
Apapun makna
malam Nishfu Sya’ban, aku ucapin Selamat Menyambut Ramadan 1426 H, semoga
diberi kekuatan menjalani ibadah sampai 1 Syawal 1426 H. Mohon Maaf Lahir
Batin.
September 20th, 2005 at 1:10 am
huaaaaaaa *crying mode on* I missed that night. In my home town, we also have those tradition things.