Archive for October, 2005

Ujung Kulon, The Sequel

Tuesday, October 25th, 2005

“Selamat Datang
di Taman Nasional Ujung Kulon”. Tulisan yang terdapat di sebuah ‘tugu’ rapuh
setinggi 1,5 meteran ditengah jalan setapak, berwarna biru lusuh dan bergambar
badak bercula 1. Setelah perjalanan 48 jam lebih, baru bertemu tulisan ini
rasanya lega sekali. Makanya rombongan langsung bersantai disekitar ‘tugu’ itu
dan berfoto-foto. Aku sendiri merasa tak percaya bisa sampai disini apalagi
mengingat ‘perjuangan’ yang luar biasa. Bayangkan…..

2 hari lalu 2 jam
sebelum tim berangkat aku baru pamit ibuku. Ibuku tentu saja tidak setuju
dengan rencana keberangkatanku ke tempat yang sangat jauh itu. Selain karena
faktor biaya tentu saja, sehari sebelumnya televisi menyiarkan kejadian musibah
puluhan mahasiswa di Gunung Slamet Jawa Tengah. Meski aku berusaha meyakinkan
kalau aku membiayai sendiri perjalanan itu (baca kisah Dimana Ada Mau Disitu
Ada Jalan) dan dijamin aman, ibuku tetap tidak mengijinkan bahkan lebih rela
mengganti uang tiket kereta. Kesimpulan akhirnya aku tetap berangkat, tapi
ibuku tidak akan mengirim SPP kuliahku untuk semester itu. Seumur-umur aku
kuliah baru kali ini mendapat ancaman serius seperti itu. Tapi apa boleh buat,
aku tak mungkin membatalkan rencana itu, karena jam 9 pagi tim akan berangkat
dari Stasiun Kota Baru Malang.

Dengan semangat
di tengah keterbatasan dana, tim memulai perjalanan panjang dengan rute Malang
– Surabaya – Jakarta – Tanah Abang – Rangkasbitung – Ujung Kulon. Aku sendiri
berangkat dengan beban, darimana dapat uang SPP semester ini??????Biarlah
kupikir nanti saja..sekarang harus kunikmati perjalanan ini.

Baru sepuluh
menit kereta ekonomi paling murah jurusan Surabaya – Jakarta meninggalkan
stasiun Tawang Semarang. Aku dan teman-teman yang duduk sebangku mulai ngantuk.
Aku sendiri belum ngantuk dan masih asyik mendengarkan musik dari walkman yang
aku bawa dari Malang sambil melihat-lihat isi tas. Ada beberapa barangku dan
bekal pemberian teman-teman di Malang. Dompet, apel, cokelat, telur asin, dan
mukena sengaja kuletakkan di tas. Selembar uang 20 ribuan (satu-satunya uang
yang aku bawa) aku pindahkan ke saku celanaku. Bosan mendengarkan musik aku
letakkan walkman di tas. Dan aku pejamkan mata, barang 5 menit. Teman-teman
disekitarku tampaknya juga mengikuti jejakku.

Tapi jantungku
serasa copot dan tulang-tulangku serasa rontok, gara-garanya meja di bawah
jendela didepan bangkuku tiba-tiba bersih. Tasku yang sebelum aku memejamkan
mata tadi disitu, sekarang lenyap entah kemana. Kontan saja teman-teman yang
ada di gerbong itu jadi ribut. Tapi apa mau dikata, kejadiannya saja tak tahu
apalagi pelakunya…Saat itulah aku teringat ibuku. Ah, mungkin ini akibat aku
melanggar omongan orang tua. Kuwalat.

“Ayo kita jalan
lagi…” seru Pak Bo, lengkapnya Bohani, pemandu Taman Nasional Ujung Kulon,
setelah istirahat di ‘Tugu Selamat Datang’ dirasa cukup. Aku dan teman-temanpun
melanjutkan perjalanan. Aku hanya mencoba menikmati perjalanan ini dan
menjadikannya kenangan indah.


Awal 2001

Edisi tanpa Fokus

Monday, October 17th, 2005

Harapan untuk
menjalani puasa dengan lebih adem tampaknya mulai terwujud..Karena sejak Sabtu
lalu beberapa wilayah di Madura diguyur hujann..deras..Sebelum hujan turun suhu
udara di Madura luar biasa panasnya…Menurut catatan BMG Maritim Perak Juanda
suhu maksimum sempat tercatat 36 derajat celcius. Aku masih beruntung karena
lebih banyak bertugas di dalam ruangan ber AC. Tapi udara panas tak bisa
kuhindari ketika pulang dari kantor. Setiap malam tak pernah berhenti dari
kegiatan kipas-kipas, terutama setelah buka puasa dan saat taraweh. Ruarrrrr
biasaaa panasnya..aliran keringat selalu terasa di sekujur tubuh..

Tapi
sekarang…matahari jarang sekali muncul..Posisinya digantikan awan yang
menyebar sayap kelabunya tepat di bawah langit yang biru. Otomatis ruang udara
jadi gelap dan dingin. Semakin dingin ketika angin berhembus. Sampai-sampai
beberapa ruangan di kantorku mematikan AC. 2 hari terakhirpun aku tidur tak
lepas dari selimut, sesuatu yang sama sekali tak pernah kulakukan sejak puasa
dimulai.

Mestinya puasa
lebih khidmat dengan cuaca seperti ini. Tapi tampaknya ada godaa lain yang
membuat puasa tak sesempurna yang aku harapkan. Misalnya, taraweh tak lagi
kulakukan berjemaah di rumah tetangga. Entahlah, lebih asik bertaraweh sendiri.
Mungkin karena aku belum menemukan keasikan bertaraweh seperti di masjid
kampusku dulu..Sangat..sangat…tumaknina menurutku. Berangkat jam setengah 7
pulang menjelang jam 9 malam. Komplit, selain dapat taraweh aku juga dapet
ceramah sebelum sholat witir. Sesekali ceramahnya dari ulama-ulama besar di
Malang waktu itu. Saat sholat shaf nya juga sangat rapat.

Dengan berteraweh
‘solo’ saat ini aku memang belum bisa se’tumaknina’ ketika di masjid kampus
dulu. Tapi setidaknya aku bisa lebih konsentrasi, dan merasakan sedang
berkomunikasi..

Langit masih mendung..bumi masih basah..tapi lembayung di ufuk barat sedikit membias..dan kumandang ayat suci Al-Quran mulai menggema..pertanda sebentar lagi buka puasa..Semoga kita bisa memanfaatkan kesempatan meningkatkan ibadah…

Ngabuburit di depan komputer, cuaca Pamekasan mendung sejak pagi 17 Oktober 2005

Dimana Ada Mau Disitu Ada Jalan..

Tuesday, October 11th, 2005

Sebuah kisah
lama, tapi selalu membuat aku tersenyum kalau mengingatnya..

***

“Aku nemu
cincin…”

“Ha..???Cincin
opo???”

“Mbuh iki cincin
kawin koyo’ane..Gede..”

“Ndelok se…”

Aku perhatikan
cincin polos berwarna emas yang ditunjukkan seorang sahabat di kepengurusan.
Dari ukurannya pastilah pemiliknya laki-laki.. Tapi tidak ada nama di bagian
dalam cincin itu seperti cincin kawin pada umumnya.

“Nemu
nangdi??”tanyaku sambil tetap memperhatikan cincin itu.

“Nang arep LPMBK”
lokasi yang cukup dekat dengan tempat tinggal sahabat asal Pati Jawa Tengah
ini.

“Trus kate
dikapa’no iki??”

“Mboh ta’simpen
ae. Be’e sing nduwe nggolek i..”

==

Waktu berjalan,
tak terasa hampir 1 bulan sejak perbincangan ku dengan nya di teras gedung
UKM Unibraw kavling 11. Masih di tempat
yang sama, Aku dan sahabatku ini kembali terlibat perbincangan.

“Urunan e sido
piro..??”

“Satus Pettang
Puluh..”

“Koen wis mbayar
tah??”

“Durung…Awakmu??”

“Podo..!!!!La
ento’duwe’ sekko ndi???”

Aku dan sahabat
yang diklatnya 1 tingkat di bawahku ini akhirnya terdiam. Mungkin dia juga
sedang berpikir..darimana dapet duit segitu banyak hanya untuk menemani
adik-adik anggota muda melewati penutupan masa orientasi umum di Ujung bagian
barat Pulau Jawa..Padahal kebarangkatan
kurang beberapa hari lagi, tak lama setelah jadwal kepulangan dari lokasi
kegiatan masa kuliah juga sudah mulai. Itu artinya semua mahasiswa HARUS
mengeluarkan uang untuk bisa melanjutkan studinya di Universitas Brawijaya.
Jatah kiriman uang dari ortu juga gak akan mungkin bisa disisihkan untuk
menutupi biaya kontribusi.

“Cincin e sik
ono??”

“Ono!”

“Nek di dol ento’
piro yo..???”

“Mboh yo…moso’
nggae iku..”

Kami terdiam
lagi..

“E..ayo nyoba
tako’ nang Bu Jalal..iku kan so’ nggawe emas ngono…”

“Ayo wis..”

Aku dan sahabatku
berjalan dengan semangat masuk ke perkampungan sekitar 20 meteran dari kavling
11.Terbayang kontribusi yang bisa terbayarkan tanpa harus minta ortu.

Nyali tampaknya
tidak terlalu besar hanya untuk bertanya “cincin seperti ini kalo dijual laku
berapa??”Karena sesampai di warung bercat hijau itu, aku dan sahabatku masih
ragu bertanya. Akhirnya memesan minuman tidak bisa dihindarkan. Pesanan paling
gampang, cepat, dan tentu saja tak terlalu butuh uang banyak.

Sambil minum…

“Bu..kalo mau
tanya tentang harga emas sekarang sama mas siapa itu bu???”

Pertanyaan
akhirnya terlontar, karena muncul keraguan bisa terjawab setelah melihat sebuah
ruangan disamping warung itu tertutup. Nah..di ruangan itu biasanya aktifitas
menyepuh emas berlangsung.

“Wah..orangnya
lagi keluar mbak….Saya sendiri juga gak tahu ..”

Tak ada
pertanyaan lebih lanjut. Kecewa pasti…Cepat-cepat minuman dihabiskan untuk
segera kembali ke kavling 11.

Masih di
teras….

“Iyo wis iku
didol ae ya…”

“Iyo wis..”

“Nangdi tapi???”

“Yo nang Pasar
Besar..”

Keraguan
sebenarnya masih bergelayut di benakku dan sahabatku ini. Karena itu tunggangan
sepeda butut yang kami pinjam dari seorang AREMA kecepatannya tidak lebih dari
40 km/jam. Ditambah lagi ketakutanku membawa sepeda tak berplat nomer di bagian belakang. Bayangkan saja
berkendara sepeda motor butut pretelan berwarna hitam oranye, tanpa plat nomer,
melintasi pusat kota Malang yang setiap sudutnya terdapat pos polisi. Warna
oranyenya saja membuat orang menoleh atau setidaknya melirik. Ya..mudah-mudahan
saja polisi tidak berjalan di belakangku. Kalo begitu mampuslah aku dan
sahabatku ini.

“Pak..kalau mau
jual cincin ini berapa?”Aku menyodorkan cincin emas besar. Pikiranku kalut
sekali. Aku memikirkan apa yang dipikirkan penjual emas ini. 2 orang permpuan menjual
cincin emas berukuran besar..yang pasti bukan ukuran perempuan, tanpa
surat-surat perhiasan…Apakah penjual akan berpikiran kami ini mencuri cincin
itu???Ntahlah…

“240 ribu ne
mbak..”sebut bapak penjual emas bertubuh kekar setelah menimbang cincin itu…

Sedikit
lega..karena itu berarti bisa untuk menutupi kontribusi kami berdua ke Ujung
barat pulau Jawa.

“Gak bisa tambah
pak???”tanya sahabatku..

“Ini cincin polos
agak susah jualnya mbak…ya..segitu wis..”

Tanpa banyak
tawar..kami setuju dengan harga yang ditaksir penjual emas di toko berukuran
sekitar 3 kali 2 meter ini. Tokonya tidak jauh dari tangga turun ke lantai
bawah Pasar Besar, tapi tertutup toko-toko emas besar lainnya. Jadi tidak
terlalu banyak orang memperhatikan transaksi kami.

Dengan sedikit
riang aku dan sahabatku meninggalkan pasar besar. Beruntung sekali batinku, di
tengah kondisi lagi seret begini, polisi tak melihat sepeda motor tanpa plat
nomer ini. Keluar dari parkiran pasar besar, kecepatan kendaraan aku tambah.
Aku sudah tidak memikirkan plat nomer lagi. Makanya aku sempat bertanya-tanya
ketika sepeda motor seperti milik
CHIP’S yang dikendarai seorang polisi kurus berada tepat disampingku. Kami baru
saja melewati perempatan pertama setelah pertigaan depan Pasar Besar, sekitar
10 meter dari Pasar Besar Malang.

“Bisa kepinggir
sebentar..” tegur polisi itu ketika tepat disamping sepeda motor yang
kukendarai.

Aku langsung
menepikan sepeda motor, tepat di seberang warung es tawon. Aku masih
bertanya-tanya untuk apa silup ini mencegat??

“Plat nomernya
mana???”Mateng koen!!!Kena juga akhirnya.

“Copot
Pak..”jawabku entah dengan mimik yang seperti
apa.Bersalah??Bodoh??Kecewa?Sedih??

“Ikut saya ke Pos
Polisi Mitra ya..” tanpa basa basi polisi itu menggiring kami ke Pos Polisi
terdekat, tepat di sisi timur alun-alun kota Malang.

Disana  aku dan sahabatku hanya sedikit bersilat lidah agar tidak perlu ikut sidang..Karena jadwal sidang bertepatan dengan keberangkatan tim ke Negeri Impian di Ujung Barat Pulau Jawa itu. Kami juga merasa perlu menunjukkan dompet kami yang hanya berisi beberapa lembar uang ribuan. Tentu saja tak perlu menunjukkan hasil penjualan cincin di Pasar Besar tadi. Kesalahan kami lumayan fatal, tak ada plat nomer dan STNK pun sudah out of date. Tapi urusan beres, setelah polisi itu menerima sekitar 12 lembar ribuan. Yang penting…jejak demi jejak badak di Taman Nasional Ujung Kulon bisa kulihat langsung, indahnya pantai-pantai disana bisa kunikmati..perawannya hutan tropis disana bisa kutelusuri..

———
It was 5 years ago

The Three Musketeers

Wednesday, October 5th, 2005

Hampir 5 tahun
aku menggeluti dunia radio. Mulai dari bidang jurnalistik, program, marketting,
dan tentu saja manajemen. Dalam kurun waktu hampir 5 tahun itu, banyak yang
sudah aku ketahui, sedangkan yang aku tidak ketahui jauh lebih banyak. Selama
hampir 5 tahun itu aku mengenal banyak guru. Yang bisa membuat aku tahu
tentang ekonomi kata, tentang 5W+1H,
tentang sound byte, insert, feature, filler, tagline, branding, Undang-undang
Penyiaran, Undang-undang Ketenagakerjaan, sampai bagaimana berteman yang baik.

Dalam waktu
kurang dari 5 tahun itu, aku mencoba mengenali dunia yang kabarnya di Indonesia
tak ada sekolahnya ini. Aku menuntut diriku sendiri untuk menguasai dunia yang
tidak mudah diukur oleh angka itu. Setidaknya untuk salah satu bidang di satu
lingkup wilayah. Di 2 hal itu juga aku mengenal 3 tokoh yang masih sangat layak
dijadikan referensi. Menurut aku, mereka adalah pilar radio di Jawa Timur.
Karena dalam banyak kesempatan di Indonesia, mereka selalu muncul. Baik
bersamaan atau sendiri-sendiri. Kamu tahu siapa mereka? Siapa lagi kalau bukan
Errol Jonathans dari Radio Suara Surabaya, Ari R. Maricar dari Radio Panorama
Pasuruan, dan Djoko WC (istilah ini sering menjadi guyonan di kalangan
orang-orang radio sendiri..) dari Radio El Bayu Gresik.

Bukan hal mudah
bertemu mereka dalam 1 kesempatan. Tapi kesempatan itu kudapat juga saat
menjadi peserta Pendalaman dan Konseling Standart Kelayakan Radio Siaran
Indonesia di Surabaya awal Oktober ini. Acara itu digelar untuk mempersiapkan
insan radio Jawa Timur menghadapi Fit And Proper Test untuk perpanjangan ijin
penyiaran oleh KPID. ‘The Three Musketeers’ menjadi bagian dari sekitar 7
instruktur yang disediakan Panitia. Mereka bertiga saling melengkapi. Untuk
urusan jurnalistik, program, periklanan, atau penyiaran secara umum. Masih
banyak yang lain sebenarnya yang bisa memberi input tentang radio. Tapi aku
merasa pas dengan input dari 3 orang itu. Entah karena cara penyampaiannya atau
memang materinya.

Di tengah kegamanganku berada di dunia radio seperti saat ini, ada sedikit optimisme yang kembali muncul. Optimis aku bisa memperjuangkan nasib teman-teman kerjaku, optimis bisa memberikan yang terbaik untuk pendengar, optimis menjadi radio nomer 1 di Madura, bahkan optimis suatu saat akan menjadi seperti The Three Musketeers….Who Knows…

Catatan kecil dari 3 hari di Santika Pandegiling Surabaya, 1-4 Oktober 2005

BBM&JD

Tuesday, October 4th, 2005

 

Melepas kerinduan
berkumpul dengan teman-teman lama membuat aku lupa dengan rasa kantuk dan lelah
setelah perjalanan dari Pamekasan ke Surabaya. Cuma 2 jam perjalanan seh..tapi
aku on the job hari itu mulai jam 6 pagi. Setelah cek in di hotel bernuansa ‘Londo’
di Surabaya, aku diajak beberapa teman lama dan baru menghabiskan malam di
sentra jajanan tak jauh dari hotel itu. Cukup melintasi sebuah jembatan yang
pada ‘jaman perang’ dulu adalah Jembatan Megah..Padahal sekarang jembatan itu
biasa saja (setidaknya untuk ukuran sekarang..)..panjangnya tak lebih dari 10
meter, pagar jembatan itu juga terbuat dari besi biasa..jauh dari kesan
kokoh…Apalagi disekitar jembatan itu banyak abang becak mangkal menunggu penumpang. Anjal yang meminta uang receh juga ada beberapa. Hanya 1 yang membuat orang Indonesia tidak akan pernah lupa dengan nama
jembatan itu..yaitu warna pagar jembatan yang Merah…

Nuansa merah
sangat terasa di pusat jajanan yang buka mulai jam 18.00 sampai 24.00
itu..Serasa berada di Hongkong..itu kesan pertamaku ketika mengunjunginya 2
tahun lalu. Sekarangpun seperti itu, seperti di Hongkong..ditambah dengan
band-band kagetan yang menampilkan lagu-lagu Mandarin. Seorang kawan wartawan
Tempo mengajak rombongan makan ikan bakar.

“Makan begini ini
enak di Jimbaran ya…”

“Oya..asik banget
tuh..apalagi pas sunset..” Kesan ini pasti akan berbeda sama sekali  setelah Jimbaran diacak-acak bom awal Oktober ini.

“Wah..BBM mo naik
begini apa masih rame ya Jimbaran..?”

“Hahaha..bisa-bisa
nelayannya ganti profesi jadi penyelundup solar kali…”

Kamipun tertawa
lepas..tanpa bayangan besarnya kenaikan harga BBM, yang rencananya akan
diumumkan pemerintah malam itu..

**

Lewat jam 24.00
aku sudah berada di sebuah kamar bersama para wartawan dari sebuah kota. Sambil
bernostalgila, kami serius menyimak berita dari sebuah stasiun TV swasta
tentang kenaikan BBM. Kami sempat terdiam. Melihat angka yang tertera di
layar..Angka yang tak pernah diduga ataupun diharapkan. Berbagai komentarpun
meluncur dari mulut kawan-kawan di kamar itu. Yang kebijakan anehlah..yang
menciptakan lahan korupsi baru lah…yang..kantor pemerintahan enaknya
dibakarlah..Banyak!

Tapi seorang
kawan yang sedang bermasalah dengan kantornya kemudian nyeletuk “ Wah… BBM naik
kita kok malah enak-enakan di hotel begini ya…” yang lain hanya menanggapi
dengan senyum..seolah mengiyakan celetukannya.

Masih dalam
suasana menyimak kebijakan baru pemerintah itu, seorang kawan datang lagi. Aku
tak mengenalnya, meskipun akhirnya kutahu nama dan medianya. Dengan gaya
slenge’annya kawan yang baru datang ini mengeluarkan sebuah botol bersegel yang
penuh berisi cairan bening berwarna seperti teh. Itu disambut sorak sorai kawan
(pria) lainnya. Seperti mendapat berkah. Bukan hanya karena zat yang berada di
dalam botol itu, tapi juga merk yang tertulis di luar botol.JD.

“Iki..telungatus
ewu luweh rek..”sambut kawan yang lain sambil meraih gelas.

Entah
sambil menceritakan apa, si kawan yang baru datang tadi mengeluarkan sebuah untaian
berwarna kuning. Aku menyimpulkan itu police line. Oh..ternyata dia mendapat
police line itu dari petugas kepolisian wilayah liputannya. Katanya itu biasa
dipakai kalo mereka sedang tidak ingin diganggu ketika melakukan sesuatu
bersama-sama. Entah kegiatan apa itu..yang pasti bukan shalat tarawih atau
istighosah..hehehe.

Ah..seperti ini
kok dibilang Indonesia melarat…meskipun diluar hotel sana berjejer sekian
banyak tukang becak yang tidak punya acuan menentukan tarif batas atas atau
tarif batas bawah pasca kenaikan harga BBM. Indonesia melarat?Aku sendiri
kesulitan menjawab itu ketika terjebak antri panjang di sebuah supermarket
besar di pusat pertokoan terbesar di Surabaya, 3 hari setelah pemerintah
mengumumkan kenaikan BBM.

Catatan kecil
dari sebuah malam, Hotel Ibis Surabaya 1 Oktober 2005.