BBM&JD

 

Melepas kerinduan
berkumpul dengan teman-teman lama membuat aku lupa dengan rasa kantuk dan lelah
setelah perjalanan dari Pamekasan ke Surabaya. Cuma 2 jam perjalanan seh..tapi
aku on the job hari itu mulai jam 6 pagi. Setelah cek in di hotel bernuansa ‘Londo’
di Surabaya, aku diajak beberapa teman lama dan baru menghabiskan malam di
sentra jajanan tak jauh dari hotel itu. Cukup melintasi sebuah jembatan yang
pada ‘jaman perang’ dulu adalah Jembatan Megah..Padahal sekarang jembatan itu
biasa saja (setidaknya untuk ukuran sekarang..)..panjangnya tak lebih dari 10
meter, pagar jembatan itu juga terbuat dari besi biasa..jauh dari kesan
kokoh…Apalagi disekitar jembatan itu banyak abang becak mangkal menunggu penumpang. Anjal yang meminta uang receh juga ada beberapa. Hanya 1 yang membuat orang Indonesia tidak akan pernah lupa dengan nama
jembatan itu..yaitu warna pagar jembatan yang Merah…

Nuansa merah
sangat terasa di pusat jajanan yang buka mulai jam 18.00 sampai 24.00
itu..Serasa berada di Hongkong..itu kesan pertamaku ketika mengunjunginya 2
tahun lalu. Sekarangpun seperti itu, seperti di Hongkong..ditambah dengan
band-band kagetan yang menampilkan lagu-lagu Mandarin. Seorang kawan wartawan
Tempo mengajak rombongan makan ikan bakar.

“Makan begini ini
enak di Jimbaran ya…”

“Oya..asik banget
tuh..apalagi pas sunset..” Kesan ini pasti akan berbeda sama sekali  setelah Jimbaran diacak-acak bom awal Oktober ini.

“Wah..BBM mo naik
begini apa masih rame ya Jimbaran..?”

“Hahaha..bisa-bisa
nelayannya ganti profesi jadi penyelundup solar kali…”

Kamipun tertawa
lepas..tanpa bayangan besarnya kenaikan harga BBM, yang rencananya akan
diumumkan pemerintah malam itu..

**

Lewat jam 24.00
aku sudah berada di sebuah kamar bersama para wartawan dari sebuah kota. Sambil
bernostalgila, kami serius menyimak berita dari sebuah stasiun TV swasta
tentang kenaikan BBM. Kami sempat terdiam. Melihat angka yang tertera di
layar..Angka yang tak pernah diduga ataupun diharapkan. Berbagai komentarpun
meluncur dari mulut kawan-kawan di kamar itu. Yang kebijakan anehlah..yang
menciptakan lahan korupsi baru lah…yang..kantor pemerintahan enaknya
dibakarlah..Banyak!

Tapi seorang
kawan yang sedang bermasalah dengan kantornya kemudian nyeletuk “ Wah… BBM naik
kita kok malah enak-enakan di hotel begini ya…” yang lain hanya menanggapi
dengan senyum..seolah mengiyakan celetukannya.

Masih dalam
suasana menyimak kebijakan baru pemerintah itu, seorang kawan datang lagi. Aku
tak mengenalnya, meskipun akhirnya kutahu nama dan medianya. Dengan gaya
slenge’annya kawan yang baru datang ini mengeluarkan sebuah botol bersegel yang
penuh berisi cairan bening berwarna seperti teh. Itu disambut sorak sorai kawan
(pria) lainnya. Seperti mendapat berkah. Bukan hanya karena zat yang berada di
dalam botol itu, tapi juga merk yang tertulis di luar botol.JD.

“Iki..telungatus
ewu luweh rek..”sambut kawan yang lain sambil meraih gelas.

Entah
sambil menceritakan apa, si kawan yang baru datang tadi mengeluarkan sebuah untaian
berwarna kuning. Aku menyimpulkan itu police line. Oh..ternyata dia mendapat
police line itu dari petugas kepolisian wilayah liputannya. Katanya itu biasa
dipakai kalo mereka sedang tidak ingin diganggu ketika melakukan sesuatu
bersama-sama. Entah kegiatan apa itu..yang pasti bukan shalat tarawih atau
istighosah..hehehe.

Ah..seperti ini
kok dibilang Indonesia melarat…meskipun diluar hotel sana berjejer sekian
banyak tukang becak yang tidak punya acuan menentukan tarif batas atas atau
tarif batas bawah pasca kenaikan harga BBM. Indonesia melarat?Aku sendiri
kesulitan menjawab itu ketika terjebak antri panjang di sebuah supermarket
besar di pusat pertokoan terbesar di Surabaya, 3 hari setelah pemerintah
mengumumkan kenaikan BBM.

Catatan kecil
dari sebuah malam, Hotel Ibis Surabaya 1 Oktober 2005.

Leave a Reply