Dimana Ada Mau Disitu Ada Jalan..
Sebuah kisah
lama, tapi selalu membuat aku tersenyum kalau mengingatnya..
***
“Aku nemu
cincin…”
“Ha..???Cincin
opo???”
“Mbuh iki cincin
kawin koyo’ane..Gede..”
“Ndelok se…”
Aku perhatikan
cincin polos berwarna emas yang ditunjukkan seorang sahabat di kepengurusan.
Dari ukurannya pastilah pemiliknya laki-laki.. Tapi tidak ada nama di bagian
dalam cincin itu seperti cincin kawin pada umumnya.
“Nemu
nangdi??”tanyaku sambil tetap memperhatikan cincin itu.
“Nang arep LPMBK”
lokasi yang cukup dekat dengan tempat tinggal sahabat asal Pati Jawa Tengah
ini.
“Trus kate
dikapa’no iki??”
“Mboh ta’simpen
ae. Be’e sing nduwe nggolek i..”
==
Waktu berjalan,
tak terasa hampir 1 bulan sejak perbincangan ku dengan nya di teras gedung
UKM Unibraw kavling 11. Masih di tempat
yang sama, Aku dan sahabatku ini kembali terlibat perbincangan.
“Urunan e sido
piro..??”
“Satus Pettang
Puluh..”
“Koen wis mbayar
tah??”
“Durung…Awakmu??”
“Podo..!!!!La
ento’duwe’ sekko ndi???”
Aku dan sahabat
yang diklatnya 1 tingkat di bawahku ini akhirnya terdiam. Mungkin dia juga
sedang berpikir..darimana dapet duit segitu banyak hanya untuk menemani
adik-adik anggota muda melewati penutupan masa orientasi umum di Ujung bagian
barat Pulau Jawa..Padahal kebarangkatan
kurang beberapa hari lagi, tak lama setelah jadwal kepulangan dari lokasi
kegiatan masa kuliah juga sudah mulai. Itu artinya semua mahasiswa HARUS
mengeluarkan uang untuk bisa melanjutkan studinya di Universitas Brawijaya.
Jatah kiriman uang dari ortu juga gak akan mungkin bisa disisihkan untuk
menutupi biaya kontribusi.
“Cincin e sik
ono??”
“Ono!”
“Nek di dol ento’
piro yo..???”
“Mboh yo…moso’
nggae iku..”
Kami terdiam
lagi..
“E..ayo nyoba
tako’ nang Bu Jalal..iku kan so’ nggawe emas ngono…”
“Ayo wis..”
Aku dan sahabatku
berjalan dengan semangat masuk ke perkampungan sekitar 20 meteran dari kavling
11.Terbayang kontribusi yang bisa terbayarkan tanpa harus minta ortu.
Nyali tampaknya
tidak terlalu besar hanya untuk bertanya “cincin seperti ini kalo dijual laku
berapa??”Karena sesampai di warung bercat hijau itu, aku dan sahabatku masih
ragu bertanya. Akhirnya memesan minuman tidak bisa dihindarkan. Pesanan paling
gampang, cepat, dan tentu saja tak terlalu butuh uang banyak.
Sambil minum…
“Bu..kalo mau
tanya tentang harga emas sekarang sama mas siapa itu bu???”
Pertanyaan
akhirnya terlontar, karena muncul keraguan bisa terjawab setelah melihat sebuah
ruangan disamping warung itu tertutup. Nah..di ruangan itu biasanya aktifitas
menyepuh emas berlangsung.
“Wah..orangnya
lagi keluar mbak….Saya sendiri juga gak tahu ..”
Tak ada
pertanyaan lebih lanjut. Kecewa pasti…Cepat-cepat minuman dihabiskan untuk
segera kembali ke kavling 11.
Masih di
teras….
“Iyo wis iku
didol ae ya…”
“Iyo wis..”
“Nangdi tapi???”
“Yo nang Pasar
Besar..”
Keraguan
sebenarnya masih bergelayut di benakku dan sahabatku ini. Karena itu tunggangan
sepeda butut yang kami pinjam dari seorang AREMA kecepatannya tidak lebih dari
40 km/jam. Ditambah lagi ketakutanku membawa sepeda tak berplat nomer di bagian belakang. Bayangkan saja
berkendara sepeda motor butut pretelan berwarna hitam oranye, tanpa plat nomer,
melintasi pusat kota Malang yang setiap sudutnya terdapat pos polisi. Warna
oranyenya saja membuat orang menoleh atau setidaknya melirik. Ya..mudah-mudahan
saja polisi tidak berjalan di belakangku. Kalo begitu mampuslah aku dan
sahabatku ini.
“Pak..kalau mau
jual cincin ini berapa?”Aku menyodorkan cincin emas besar. Pikiranku kalut
sekali. Aku memikirkan apa yang dipikirkan penjual emas ini. 2 orang permpuan menjual
cincin emas berukuran besar..yang pasti bukan ukuran perempuan, tanpa
surat-surat perhiasan…Apakah penjual akan berpikiran kami ini mencuri cincin
itu???Ntahlah…
“240 ribu ne
mbak..”sebut bapak penjual emas bertubuh kekar setelah menimbang cincin itu…
Sedikit
lega..karena itu berarti bisa untuk menutupi kontribusi kami berdua ke Ujung
barat pulau Jawa.
“Gak bisa tambah
pak???”tanya sahabatku..
“Ini cincin polos
agak susah jualnya mbak…ya..segitu wis..”
Tanpa banyak
tawar..kami setuju dengan harga yang ditaksir penjual emas di toko berukuran
sekitar 3 kali 2 meter ini. Tokonya tidak jauh dari tangga turun ke lantai
bawah Pasar Besar, tapi tertutup toko-toko emas besar lainnya. Jadi tidak
terlalu banyak orang memperhatikan transaksi kami.
Dengan sedikit
riang aku dan sahabatku meninggalkan pasar besar. Beruntung sekali batinku, di
tengah kondisi lagi seret begini, polisi tak melihat sepeda motor tanpa plat
nomer ini. Keluar dari parkiran pasar besar, kecepatan kendaraan aku tambah.
Aku sudah tidak memikirkan plat nomer lagi. Makanya aku sempat bertanya-tanya
ketika sepeda motor seperti milik
CHIP’S yang dikendarai seorang polisi kurus berada tepat disampingku. Kami baru
saja melewati perempatan pertama setelah pertigaan depan Pasar Besar, sekitar
10 meter dari Pasar Besar Malang.
“Bisa kepinggir
sebentar..” tegur polisi itu ketika tepat disamping sepeda motor yang
kukendarai.
Aku langsung
menepikan sepeda motor, tepat di seberang warung es tawon. Aku masih
bertanya-tanya untuk apa silup ini mencegat??
“Plat nomernya
mana???”Mateng koen!!!Kena juga akhirnya.
“Copot
Pak..”jawabku entah dengan mimik yang seperti
apa.Bersalah??Bodoh??Kecewa?Sedih??
“Ikut saya ke Pos
Polisi Mitra ya..” tanpa basa basi polisi itu menggiring kami ke Pos Polisi
terdekat, tepat di sisi timur alun-alun kota Malang.
Disana aku dan sahabatku hanya sedikit bersilat lidah agar tidak perlu ikut sidang..Karena jadwal sidang bertepatan dengan keberangkatan tim ke Negeri Impian di Ujung Barat Pulau Jawa itu. Kami juga merasa perlu menunjukkan dompet kami yang hanya berisi beberapa lembar uang ribuan. Tentu saja tak perlu menunjukkan hasil penjualan cincin di Pasar Besar tadi. Kesalahan kami lumayan fatal, tak ada plat nomer dan STNK pun sudah out of date. Tapi urusan beres, setelah polisi itu menerima sekitar 12 lembar ribuan. Yang penting…jejak demi jejak badak di Taman Nasional Ujung Kulon bisa kulihat langsung, indahnya pantai-pantai disana bisa kunikmati..perawannya hutan tropis disana bisa kutelusuri..
———
It was 5 years ago