Ujung Kulon, The Sequel

“Selamat Datang
di Taman Nasional Ujung Kulon”. Tulisan yang terdapat di sebuah ‘tugu’ rapuh
setinggi 1,5 meteran ditengah jalan setapak, berwarna biru lusuh dan bergambar
badak bercula 1. Setelah perjalanan 48 jam lebih, baru bertemu tulisan ini
rasanya lega sekali. Makanya rombongan langsung bersantai disekitar ‘tugu’ itu
dan berfoto-foto. Aku sendiri merasa tak percaya bisa sampai disini apalagi
mengingat ‘perjuangan’ yang luar biasa. Bayangkan…..

2 hari lalu 2 jam
sebelum tim berangkat aku baru pamit ibuku. Ibuku tentu saja tidak setuju
dengan rencana keberangkatanku ke tempat yang sangat jauh itu. Selain karena
faktor biaya tentu saja, sehari sebelumnya televisi menyiarkan kejadian musibah
puluhan mahasiswa di Gunung Slamet Jawa Tengah. Meski aku berusaha meyakinkan
kalau aku membiayai sendiri perjalanan itu (baca kisah Dimana Ada Mau Disitu
Ada Jalan) dan dijamin aman, ibuku tetap tidak mengijinkan bahkan lebih rela
mengganti uang tiket kereta. Kesimpulan akhirnya aku tetap berangkat, tapi
ibuku tidak akan mengirim SPP kuliahku untuk semester itu. Seumur-umur aku
kuliah baru kali ini mendapat ancaman serius seperti itu. Tapi apa boleh buat,
aku tak mungkin membatalkan rencana itu, karena jam 9 pagi tim akan berangkat
dari Stasiun Kota Baru Malang.

Dengan semangat
di tengah keterbatasan dana, tim memulai perjalanan panjang dengan rute Malang
– Surabaya – Jakarta – Tanah Abang – Rangkasbitung – Ujung Kulon. Aku sendiri
berangkat dengan beban, darimana dapat uang SPP semester ini??????Biarlah
kupikir nanti saja..sekarang harus kunikmati perjalanan ini.

Baru sepuluh
menit kereta ekonomi paling murah jurusan Surabaya – Jakarta meninggalkan
stasiun Tawang Semarang. Aku dan teman-teman yang duduk sebangku mulai ngantuk.
Aku sendiri belum ngantuk dan masih asyik mendengarkan musik dari walkman yang
aku bawa dari Malang sambil melihat-lihat isi tas. Ada beberapa barangku dan
bekal pemberian teman-teman di Malang. Dompet, apel, cokelat, telur asin, dan
mukena sengaja kuletakkan di tas. Selembar uang 20 ribuan (satu-satunya uang
yang aku bawa) aku pindahkan ke saku celanaku. Bosan mendengarkan musik aku
letakkan walkman di tas. Dan aku pejamkan mata, barang 5 menit. Teman-teman
disekitarku tampaknya juga mengikuti jejakku.

Tapi jantungku
serasa copot dan tulang-tulangku serasa rontok, gara-garanya meja di bawah
jendela didepan bangkuku tiba-tiba bersih. Tasku yang sebelum aku memejamkan
mata tadi disitu, sekarang lenyap entah kemana. Kontan saja teman-teman yang
ada di gerbong itu jadi ribut. Tapi apa mau dikata, kejadiannya saja tak tahu
apalagi pelakunya…Saat itulah aku teringat ibuku. Ah, mungkin ini akibat aku
melanggar omongan orang tua. Kuwalat.

“Ayo kita jalan
lagi…” seru Pak Bo, lengkapnya Bohani, pemandu Taman Nasional Ujung Kulon,
setelah istirahat di ‘Tugu Selamat Datang’ dirasa cukup. Aku dan teman-temanpun
melanjutkan perjalanan. Aku hanya mencoba menikmati perjalanan ini dan
menjadikannya kenangan indah.


Awal 2001

Leave a Reply