Archive for November, 2005

Ketika Perempuan itu Ingin Maju..

Sunday, November 27th, 2005

Perempuan muda di
depanku diam penuh keresahan. Baru saja dia meminta ‘pembelaan’ agar orang
tuanya tidak shock menerima berita tentangnya. Berita tentang sebuah peristiwa
yang sebenarnya sederhana tapi menjadi rumit hanya karena perbedaan
persepsi..atau yang lebih mendasar perbedaan prinsip.

“Mamaku pingsan
mbak..waktu denger kabar itu..”

Sebuah reaksi
yang sama sekali tak diduga, karena sebenarnya yang dikhawatirkan adalah reaksi
bapaknya. Padahal menurut kacamataku dan orang-orang lain di kantor ini,
peristiwa yang terjadi tepat di hari ulang tahunnya itu, sesuatu yang
wajar..Hanya sebuah surprise yang dirancang oleh temen se kantor disponsori
oleh pacarnya. Mirip reality show, perempuan berbodi menggoda (menurut pendapat
mayoritas karyawan pria di kantor) itu ‘disidang’ besar-besaran (dihadiri
seluruh karyawan) karena kesalahan mengutip berita yang diudarakan, dan pihak
yang mengeluarkan berita itu menuntut akan mensomasi kantorku. Aku sendiri
berperan sebagai orang yang meminta pertanggungjawaban secara internal. Ketika
perempuan itu mencapai puncak kemarahan, air se ember diguyurkan ke tubuhnya.
Belum habis kaget dengan surprise itu, pacarnya yang sengaja datang dari
Sidoarjo tanpa sepengetahuannya, muncul dari belakang membawa black forest
berdiameter 20cm lengkap dengan lilinnya. Semakin histerislah perempuan itu,
sambil menerima ucapan selamat dari pacaranya. Tiba-tiba seorang super sepuh di
kantorku muncul dengan nada tinggi menyuruh segera mematikan lilin-lilin di kue
itu. Semua yang hadir di ruang itu semakin terkejut ketika akhirnya sosok super
sepuh itu meniup mati semua lilin di kue..Dengan suara tinggi dia menilai acara
seperti itu bukan adat kita..Semua yang hadir disitu langsung terdiam dan
tersenyum kecut..karena tawa sudah terlanjur dilepas. Bahkan nasi kotak
jatahnya yang dibagikan ke semua karyawan, ditolaknya.

“Saya akan
laporkan ke orang tuanya..Dia juga mestinya tidak boleh menerima orang yang
bukan muhrimnya di tempat ini..”Oh..my God…Orang itu mengeluarkan ancaman
lewat karyawan lainnya.

Upaya gerak cepat
mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan tampaknya sia-sia..Karena ibu
perempuan itu terlanjur mendengar kabar itu dari orang lain yang mendapat
informasi dari si super sepuh. Tak tanggung-tanggung, ibu perempuan itu
memberikan 2 pilihan saja untuk anak pertamanya itu:

“Keluar dari
kerja dan berhenti kuliah..atau…keluar dari rumah..”

What??????????????????Hanya
karena reality show itu????????

Sebuah pilihan
yang sulit tentu saja bagi perempuan itu. Karena aku tahu betul betapa untuk
bisa kuliah saja dia harus berperan sebagai pemberontak dalam keluarganya.
Dengan konsekuensi dia harus membiayai sendiri kuliahnya, dan tentu saja
mendapat perlakuan diskriminasi dalam keluarganya. Padahal IPK nya rata-rata
diatas 3 koma. Orangtuanya sendiri menginginkan perempuan itu berkeluarga
seperti umumnya orang-orang sesukunya. Tak perlu kuliah, tak perlu bekerja,
apalagi bergaul luas. Apalagi bekerja di radio, yang menuntut jam kerja berbeda
dengan pegawai kantoran umumnya. Jangan sampai orang tuanya melihat perempuan
berjilbab itu berboncengan dengan lawan jenis..pasti emosi akan ditumpahkan
saat itu juga pada dirinya. Jam 9 malam adalah batas akhir perempuan yang
menjadi kakak bagi 6 adik perempuannya itu ada di luar rumah, lewat dari
itu…mungkin dia harus mencari alternatif tempat menginap, dengan konsekuensi
pasti kena semprot juga. Belum lagi pacarnya bukan orang dari sukunya.
Resikonya perempuan itu bisa ‘dikeluarkan’ dari lingkungan keluarganya plus diskriminasi
long term dari sukunya sendiri. Meskipun pacarnya sudah ‘memenuhi salah satu
syarat dari 2 syarat’ tak tertulis sebagai orang luar dari sukunya. Bagus
secara fisik atau bagus secara materi. Pacarnya seorang pengusaha muda dari
keluarga sangat..sangat…berkecukupan.

Permasalahan yang
benar-benar rumit sedang dihadapi perempuan itu…

“Ya sudah..malam
ini aku ke rumahmu untuk ketemu orang tuamu. Biar kita bisa jelaskan gemana
duduk permasalahannya..Mudah-mudahan Mama mu bisa nerima.”

Ya itu alternatif penyelesaian terakhir sebelum perempuan itu menentukan salah satu diantara 2 pilihan tadi. Selebihnya..biarlah menjadi tugasnya.

Catatan:
Mungkin aku lagi-lagi harus bersyukur…karena ternyata tak banyak perempuan di daerah ini yang punya kesempatan menghirup udara bebas dalam segala hal…Tak sedikit perempuan yang dilarang keras melanjutkan sekolah ke tingkat pendidikan tinggi, kuliah di luar Madura, dll.Entah untuk alasan apa..Pokoknya ndak boleh…

Detik..detik….

Wednesday, November 16th, 2005

Membuka kembali
tulisan pertama blog ku aku tersenyum..

Tak pernah
terpikir akan ada angin..air..atau apapun yang bisa membawaku kembali ke kaki
gunung..

Tanpa aku
sadari..

Tampaknya
sekarang aku harus berkemas untuk segera turun gunung..

Menanggalkan ambisi
untuk menjejakkan kaki di puncak gunung yang lebih tinggi..

Ucap selamat
tinggal pada angin kencang yang selalu melewati puncak itu..

Dengan segala
tantangan dan resikonya..

Semua tak lain
karena kehendak Nya, yang tak bisa ditolak ataupun diraih semau kita.

**

Melihat tawamu
mendengar senandungmu..

Terlihat jelas di
mataku warna-warna indahmu..

Menatap langkahmu
meratapi kisah hidupmu..

Terlihat jelas
bahwa hatimu anugerah terindah yang pernah kumiliki…

Sifatmu nan slalu
redakan ambisiku..

Tepikan khilafku
dari bunga yang layu..

Saat kau disiku
kembali dunia ceria..

Tegaskan bahwa
kamu..

Anugerah terindah
yang pernah kumiliki…

**

Semoga Tuhan
selalu memberi petunjuk dalam perjalananku berikutnya

Menuruni
gunung..yang sudah kudaki cukup lama..

Menghabiskan
waktu sebagai ‘orang biasa’

Membangun
keluarga yang sakinah..mawaddah..warahmah

Amin.

Sekarang Itu Surga….

Friday, November 11th, 2005

Sabtu siang
suasana kantor sepi..Selesai menggantikan tugas penyiar yang absen aku turun
dari lantai 2.

“Dian lahir tahun
berapa..?”salah satu komisaris perusahaanku bertanya pas aku sampai di meja
kerjaku. Aku sedang membaca harian Kompas edisi Sabtu.

“Tahun 77
pak..Kenapa?”

“Nah..Dian perlu
tahu sejarah juga..ini saya bawakan Koran tahun 71..”

What..???Koran
tahun 71 beliau masih punya???

“Koran waktu itu
hanya boleh terbit 1 lembar begini..”

Komisaris yang
dulu memang wartawan itu menunjukkan selembar koran berwarna cokelat (karena
faktor usia), lebih besar dari ukuran Jawa Pos, Kompas, apalagi Koran Tempo.
Aku lihat tanggal penerbitan Harian Abadi itu Senin 16 Agustus 1971, 23
Djumadil Achir 1391 H.

Aku tersenyum
mengamati koran yang menampilkan banner di halaman depan “Sekali Merdeka Tetap
Meredeka”. Ya..karena edisi itu terbit sehari sebelum peringatan kemerdekaan
RI. Masih di halaman depan, ada foto Soekarno berjabat tangan dengan Soeharto,
Keluarga Soeharto lengkap bersama the first lady dan putra putrinya yang
sekarang lebih berperan sebagai selebriti atau napi. Ada juga foto Presiden
Soeharto, teks di foto itu menyebutkan untuk meningkatkan produksi pertanian,
Presden Suharto turun kesawah mengajun tjangkul. Ah..jadi mirip si SBY…

Sementara
beberapa berita yang aktual hari itu Kapolri Drs.Hoegeng:Ketentuan Ttg Helm
Belum Ada Dasar Hukumnja. Jadi ingat dasar hukum menyalakan lampu sepeda motor
di siang hari..Apa ya?

Kakek kelahiran
Bangkalan 12 Desmeber 1922 itu kembali menjelaskan dengan semangat ’45,

 “Waktu itu koran cuma boleh terbit selembar
begini..karena keterbatasan stok kertas…Pemerintah melarang terbit lebih dari
selembar. Tapi koran yang paling kaya waktu itu KOMPAS, terbit lebih dari 1
lembar.” Padahal dulu hutan pasti masih
bagus kondisinya..sekarang hutan habis..tapi justru sebaliknya..tak ada satupun
media cetak yang terbit selembar..seperti harian yang aku pegang ini…

Aku tersenyum
lagi melihat halaman belakang koran itu. Isinya iklan semua, Sarinah Toserba
(yang aku ingat Sarinah ini terbakar waktu tahun 80an..), Garuda Indonesian
Airways yang mengiklankan ‘Singapore, terbanglah kesana dengan Garuda dalam
njaman dan tjepatnja pesawat Jet besar DC-9’. Ada juga iklan yang bunyinya
begini,”Telah lahir…Dengan Rahmat Tuhan Jang Maha Esa, telah lahir dengan
selamat pada tanggal 11 Agustus 1971 putera kami jang ketiga. Fickry A. S.
Kepada bidan Nj.E.Soebagio tak lupa kami utjapkan terima kasih atas segala
bantuan jang telah diberikannja. Keluarga jang berbahagia….bla..bla..bla..”.
Tarif iklannya 1 mm/kolom Rp. 40 rupiah. Harga langganannya 250
rupiah…….untuk dalam kota dan luar kota lewat via pos biasa!!!!Kalau via
pos udara 275 rupiah saja….Wow!!!!

“Wartawan
sekarang enak…kalo dulu mau kirim berita..harus cari taksi dulu..Atau telpon
ke Jakarta ne..belum tentu 2 hari bisa tersambung sama Jakarta..”

“Wah..berarti
beritanya gemana tu Pak?”

“Ya..yang bisa
dimuat biasanya yang longlife. Jadi kalo kira-kira ndak bisa tersambung dengan
Jakarta..ya sudah..berita nya angus…”

“Ndak kayak
sekarang telpon tinggal pencet 021…sudah nyambung..ada HP..fax..internet..”

Aku hanya
tertawa..

“Sekarang ini
surga…dulu percetakannya juga gak sesempurna sekarang. Mesin cetak gak punya
huruf yang lengkap. Ada yang gak punya huruf P, ada yang gak punya huruf D..”

“Trus tulisan di
korannya gemana tu Pak?”

“Ya..diganti
dengan huruf yang mirip. Misalnya Penduduk..percetakan yang gak punya huruf P menggantinya dengan B..jadi
bacaannya Benduduk…”hahahaha…jadoel..jadoel…

Sayang Harian
Abadi ini tak seabadi namanya..

“Bersama 5 koran
lainnya..Indonesia Raya, Jakarta Times, KAMMI, trus apa lagi satu saya
lupa…di bredel karena memuat berita pembongkaran kasus Malari.”

“Aturan bredel
waktu itu pake apa Pak.?”

“Ndak pake
aturan. Sesudah Indonesia merdeka, pembredelan justru lebih kejam dibanding
jaman penjajahan Belanda. Kalau jaman Belanda ada namanya Press Breidel
Ordonnansi. Kalau ada koran yang menjelekkan pemerintah, pimred langsung yang dipanggil,
disidang, ditunjukkan berita ini hari ini tanggal segini menghina pemerintah.
Lalu diputuskan..koran dibredel dari tanggal sekian sampai tanggal sekian..bisa
cuma seminggu..atau 2 minggu..Jadi karyawan tidak kehilangan mata
pencaharian..Setelah Soekarno menyatakan Pers berjasa besar dalam kemerdekaan
RI, Press Breidel Ordonnansi dihapus. Pas jamannya Suharto..pembredelannya
langsung menyegel percetakan, karyawan jadi korban..”Oalah Suharto..Suharto…

Orang yang
menguasai 4 bahasa asing dan rajin membaca majalah TIME ini menilai “Berita
jaman dulu juga lebih menggigit…kalo sekarang lebih banyak talking news
daripada factual news..”

Menarik juga bisa
melihat bagian dari sejarah pers di Indoensia dari saksi sejarah. Lebih menarik
lagi…Perwakilan Harian Abadi di Jawa Timur yang pernah menjadi wartawan
Memorandum ini berjanji “ Hari Senin saya bawakan koran terbitan tahun 49….”


Saksi sejarah itu bernama Hasan Altuwy

Kenapa Jogja?

Tuesday, November 8th, 2005

“Halo..kamu lagi
dimana sekarang..”

“Di rumah..!dimana
lagi..”

“Wah… kirain di
Jogja..aku mau mampir..Nggak lebaran di Jogja toh??.”

“Nggak..Mungkin
ke Jogja nya habis lebaran…”

Mungkin…mewakili
sesuatu yang gak pasti. Bisa ya bisa tidak..Aku sendiri gak yakin habis lebaran
itu tepatnya kapan aku bisa ke Jogja.

“Ayo..tahun depan
lebaran di Jogja..”usul adik bungsuku yang ternyata juga menyukai ‘tanah
leluhur’nya itu. Usul itu ia lontarkan setelah kami pikir-pikir..lama juga
tidak berlebaran di Jogja. Terakhir..waktu adik bungsuku itu duduk di bangku SD
mungkin. Sekarang dia sudah kuliah semester 7. Tapi lebaran tahun depan..masih
lama.

“Kapan ke
YK?”pertanyaan sodaraku di Jogja seolah melengkapi keinginanku untuk serius
merencanakan kunjungan ke Jogja.

Aku masih
ingat..mamaku pengen pulang ke Jogja,”Kalau ada sisa THR..”

Aku sendiri
terakhir ke Jogja…emmmmm..tahun 2004 bulan September. Ya, waktu itu ada
pelatihan Peliputan Festivalnya Radio France Internationale. Setahun lebih gak
ke Jogja????Lama juga ya…selama ini komunikasi dengan keluarga di Jogja hanya
lewat telpon..SMS..atau Yahoo! Messenger.

Batik..Malioboro..Pasar
Gede..Alun – alun Kidul..Pakualaman..Gudeg..Kue Moci..Es Rujak Gobet..Pasar
Demangan..Kue Kipo Kota Baru..setiap ruas jalan..raya Solo..Sapen..Ringroad
utara..Janti..Gayam..Lempuyangan..atau…sebuah rumah tua berhalaman luas di
Demangan Kidul GK I/12..yang berhadapan dengan kantor sebuah kantor percetakan
besar, selalu mengingatkan aku tentang masa kecil yang begitu berwarna. Melihat kepulan puncak Merapi dari jalan kampung Demangan di pagi hari sambil menunggu antrian pembeli gudeg…Itulah
beberapa hal tentang Jogja yang membuat aku pengen kembali kesana.

Kapan??????

"Nanti bulan Desember …ke Jogja sama Ayang ya…Kan bonus akhir tahun dari perusahaan ‘cair’..sekalian..cuti tahunan.."aku berbisik janji ke Mamaku. Insyaallaah.

Mohon Maaf Lahir dan batin

Saturday, November 5th, 2005

Bulan suci katanya bulan yang paling indah untuk umat islam yang ingin mendekatkan diri kepada Nya. Karena di bulan suci Ramadan semua nya adalah ibadah. Pokoknya melimpah pahala deh…Beberapa orang punya kebiasaan i’tikaf saat ramadhan. “Ngapain aja…?” sebuah pertanyaan ‘bodoh’ pernah aku lontarkan ketika menjumpai seorang akhwat di masjid kampus mengajak aku ikut i’tikaf. Maksud pertanyaanku waktu itu, apa saja kegiatan saat i’tikaf. Tapi mungkin orang menganggapnya lain, bahkan seorang teman yang bersamaku ke mesjid waktu itu menimpali “duh..masa i’tikaf aja nggak tahu…”
Tapi kenyataannya, sekalipun aku belum pernah ikut kegiatan i’tikaf itu. Mungkin ‘level’ku belum sampai kesana. Masih dalam batas ‘orang normal’. Yang hanya bisa berusaha berpuasa, sholat 5 waktu, mengaji, dan sebagian kecil sholat sunnah di bulan Ramadan. Karena lagi-lagi urusan pekerjaan jadi alasan pembenar tidak sempat berlama-lama atau berkhusyuk-khusyuk ibadah . Tapi intinya tetap berusaha dan berusaha lebih baik dari yang pernah aku lakukan, meski secara kuantitas tidak, mungkin secara kualitas.Mungkin….

Tak terasa…bulan ramadan tahun ini sudah lewat. Hutang puasaku hanya 4 hari tapi aku tak bisa ikut sholat ied, ya..mudah-mudahan segera terbayar hutang itu.
Apa istimewanya bulan Ramadan dengan bulan lain? Toh ibadah bisa dilakukan setiap saat..setiap hari adalah hari baik…

“Aku berdoa di bulan Ramadan…dan terkabul..” seloroh seorang sahabat 1 hari menjelang Lebaran, dia sudah menunaikan ibadah haji.

“Waktu itu aku minta UNDANGLAH AKU KE TANAH SUCI YA ALLAH…Aku minta sampe nangis-nangis…”

“Eh, tak lama setelah bulan ramadan lewat..aku dapet rejeki banyaaaaaaaaakkkk banget. Sampe nolak-nolak…Ya..akhirnya jadilah aku memenuhi undangan itu…”

Ya..tapi Ramadan sudah lewat…lama sekali untuk menunggu Ramadan lagi…meskipun aku sendiri punya sederet permintaan yang pernah aku mintakan kepada Nya saat Ramadan lalu.

“Kan ada tuh di Al-Quran..mintalah kepada Ku..selebihnya urusan Ku…Dan mintalah segala sesuatunya yang diridoi Allah…Karena bukan berarti kita kaya terus kita seneng…bukan berarti berkeluarga itu membuat kita tenang..kalau memang tidak diridoi Allah..”
Ah..aku tak menyangka, orang yang terkenal dengan hobi minum bir ini bisa memberi inspirasi untuk urusan Hablumminallah.

SELAMAT IDUL FITRI 1426 H, Mohon Maaf Lahir dan Batin, Semoga Allah SWT mengijinkan kita bertemu lagi dengan Ramadan.