Sekarang Itu Surga….
Sabtu siang
suasana kantor sepi..Selesai menggantikan tugas penyiar yang absen aku turun
dari lantai 2.
“Dian lahir tahun
berapa..?”salah satu komisaris perusahaanku bertanya pas aku sampai di meja
kerjaku. Aku sedang membaca harian Kompas edisi Sabtu.
“Tahun 77
pak..Kenapa?”
“Nah..Dian perlu
tahu sejarah juga..ini saya bawakan Koran tahun 71..”
What..???Koran
tahun 71 beliau masih punya???
“Koran waktu itu
hanya boleh terbit 1 lembar begini..”
Komisaris yang
dulu memang wartawan itu menunjukkan selembar koran berwarna cokelat (karena
faktor usia), lebih besar dari ukuran Jawa Pos, Kompas, apalagi Koran Tempo.
Aku lihat tanggal penerbitan Harian Abadi itu Senin 16 Agustus 1971, 23
Djumadil Achir 1391 H.
Aku tersenyum
mengamati koran yang menampilkan banner di halaman depan “Sekali Merdeka Tetap
Meredeka”. Ya..karena edisi itu terbit sehari sebelum peringatan kemerdekaan
RI. Masih di halaman depan, ada foto Soekarno berjabat tangan dengan Soeharto,
Keluarga Soeharto lengkap bersama the first lady dan putra putrinya yang
sekarang lebih berperan sebagai selebriti atau napi. Ada juga foto Presiden
Soeharto, teks di foto itu menyebutkan untuk meningkatkan produksi pertanian,
Presden Suharto turun kesawah mengajun tjangkul. Ah..jadi mirip si SBY…
Sementara
beberapa berita yang aktual hari itu Kapolri Drs.Hoegeng:Ketentuan Ttg Helm
Belum Ada Dasar Hukumnja. Jadi ingat dasar hukum menyalakan lampu sepeda motor
di siang hari..Apa ya?
Kakek kelahiran
Bangkalan 12 Desmeber 1922 itu kembali menjelaskan dengan semangat ’45,
“Waktu itu koran cuma boleh terbit selembar
begini..karena keterbatasan stok kertas…Pemerintah melarang terbit lebih dari
selembar. Tapi koran yang paling kaya waktu itu KOMPAS, terbit lebih dari 1
lembar.” Padahal dulu hutan pasti masih
bagus kondisinya..sekarang hutan habis..tapi justru sebaliknya..tak ada satupun
media cetak yang terbit selembar..seperti harian yang aku pegang ini…
Aku tersenyum
lagi melihat halaman belakang koran itu. Isinya iklan semua, Sarinah Toserba
(yang aku ingat Sarinah ini terbakar waktu tahun 80an..), Garuda Indonesian
Airways yang mengiklankan ‘Singapore, terbanglah kesana dengan Garuda dalam
njaman dan tjepatnja pesawat Jet besar DC-9’. Ada juga iklan yang bunyinya
begini,”Telah lahir…Dengan Rahmat Tuhan Jang Maha Esa, telah lahir dengan
selamat pada tanggal 11 Agustus 1971 putera kami jang ketiga. Fickry A. S.
Kepada bidan Nj.E.Soebagio tak lupa kami utjapkan terima kasih atas segala
bantuan jang telah diberikannja. Keluarga jang berbahagia….bla..bla..bla..”.
Tarif iklannya 1 mm/kolom Rp. 40 rupiah. Harga langganannya 250
rupiah…….untuk dalam kota dan luar kota lewat via pos biasa!!!!Kalau via
pos udara 275 rupiah saja….Wow!!!!
“Wartawan
sekarang enak…kalo dulu mau kirim berita..harus cari taksi dulu..Atau telpon
ke Jakarta ne..belum tentu 2 hari bisa tersambung sama Jakarta..”
“Wah..berarti
beritanya gemana tu Pak?”
“Ya..yang bisa
dimuat biasanya yang longlife. Jadi kalo kira-kira ndak bisa tersambung dengan
Jakarta..ya sudah..berita nya angus…”
“Ndak kayak
sekarang telpon tinggal pencet 021…sudah nyambung..ada HP..fax..internet..”
Aku hanya
tertawa..
“Sekarang ini
surga…dulu percetakannya juga gak sesempurna sekarang. Mesin cetak gak punya
huruf yang lengkap. Ada yang gak punya huruf P, ada yang gak punya huruf D..”
“Trus tulisan di
korannya gemana tu Pak?”
“Ya..diganti
dengan huruf yang mirip. Misalnya Penduduk..percetakan yang gak punya huruf P menggantinya dengan B..jadi
bacaannya Benduduk…”hahahaha…jadoel..jadoel…
Sayang Harian
Abadi ini tak seabadi namanya..
“Bersama 5 koran
lainnya..Indonesia Raya, Jakarta Times, KAMMI, trus apa lagi satu saya
lupa…di bredel karena memuat berita pembongkaran kasus Malari.”
“Aturan bredel
waktu itu pake apa Pak.?”
“Ndak pake
aturan. Sesudah Indonesia merdeka, pembredelan justru lebih kejam dibanding
jaman penjajahan Belanda. Kalau jaman Belanda ada namanya Press Breidel
Ordonnansi. Kalau ada koran yang menjelekkan pemerintah, pimred langsung yang dipanggil,
disidang, ditunjukkan berita ini hari ini tanggal segini menghina pemerintah.
Lalu diputuskan..koran dibredel dari tanggal sekian sampai tanggal sekian..bisa
cuma seminggu..atau 2 minggu..Jadi karyawan tidak kehilangan mata
pencaharian..Setelah Soekarno menyatakan Pers berjasa besar dalam kemerdekaan
RI, Press Breidel Ordonnansi dihapus. Pas jamannya Suharto..pembredelannya
langsung menyegel percetakan, karyawan jadi korban..”Oalah Suharto..Suharto…
Orang yang
menguasai 4 bahasa asing dan rajin membaca majalah TIME ini menilai “Berita
jaman dulu juga lebih menggigit…kalo sekarang lebih banyak talking news
daripada factual news..”
Menarik juga bisa
melihat bagian dari sejarah pers di Indoensia dari saksi sejarah. Lebih menarik
lagi…Perwakilan Harian Abadi di Jawa Timur yang pernah menjadi wartawan
Memorandum ini berjanji “ Hari Senin saya bawakan koran terbitan tahun 49….”
Saksi sejarah itu bernama Hasan Altuwy