Siapa Suruh Datang Jakarta..

Ibu kota sedang berhati
tenang..bersahabat..dan menyambut baik kehadiranku. Mungkin karena aku datang
dengan niat baik hehehhe..

**

Kereta
Argo Bromo-Anggrek pagi mengantar aku ke Jakarta, terlambat 1 jam dari jadwal
yang tertera di tiket. Alternatif termurah tapi nyaman, karena tiket pesawat
saat itu hampir mendekati angka 300 ribu rupiah, sementara kereta 200 ribu saja
gak sampai. Surprise..begitulah sambutan teman-teman dan saudara yang kuberitahu
lewat Sandek (Pesan Pendek, baca: SMS) kalo aku sedang on the way ke Jakarta.
Karena memang biasanya bisa sampai disana kalau ada urusan pelatihan saja.
Menyenangkan, ketika mereka berharap aku berhasil melalui tahapan wawancara di
sebuah lembaga pelatihan broadcast.

Hujan
menyambut kedatanganku. Kemacetan tidak terlalu menggangu karena memang sudah
lewat jam macet. Lantunan Nothing Gonna Change my Love For You dari George
Benson..Dont Sleep Away This Night dari Daniel Sahuleka.. Shoulder To Cry On
dari Tomy Page..If You Leave Me Now dari Chicago dan lagu bergenre sama
lainnya.. seperti menambah kuat sambutan hangat Jakarta. Kalau aku sebut
suasana romantis kurang tepat..karena di mobil cokelat milik perusahaan
distribusi pelumas untuk industri itu ada 4 makhluk sekaligus. Mereka rame, dan
berceloteh khas orang Jakarta, elo..gue..belagu..dan bahasa betawi lainnya yang
menjauhkan dari suasana romantis.

Hari-hari
berikutnya, aku seperti larut dalam denyut nadi Jakarta. Menelusuri jalanan
dari Pamulang menuju Lebak Bulus dengan sebuah angkutan kota berkode C15, atau
duduk tenang dalam bis mini 69 dari Kebayoran menuju Ciledug lanjut dengan
angkutan C12 menuju Cipadu seperti meyakinkan aku kalau Jakarta tak sekejam ibu
tiri. Entah, mungkin karena aku melakukan perjalanan itu diluar jam padat,
sehingga semuanya berjalan aman. Naik angkot kebablasan pun, tidak membuat aku
resah apalagi gusar karena denagn begitu aku bisa melihat lebih banyak suasana
Jakarta. Cipadu dengan sederet pertokoan textil berharga miring, mengingatkan
aku pada Wedoro, sebuah pusat penjualan home industry sepatu dan sandal di
Sidoarjo Jawa Timur.

Selebihnya
aku menghabiskan waktu berjalan dengan sebuah sepeda motor Tiger biru, yang
kadang menyulitkan pergerakan di tengah jebakan kemacetan. Menembus gelapnya
malam yang basah oleh air hujan..menerobos teriknya matahari yang bercampur
asap kendaraan bermotor.. Tapi semuanya kuanggap menyenangkan, bukan hanya
karena dengan siapa aku melakukannya..

Medio 7-10 Desember 2005

Leave a Reply