Archive for January, 2006

Home Sweet Home??????

Sunday, January 29th, 2006

Angin kenceeeeeennnng banget, waktu aku sampe di pesisir utara Semarang. Ibu kota propinsi ini ternyata punya permasalahan besar, yang entah bisa diatasi nantinya atau tidak. Sekitar 3 kilometer sebelum mencapai bibir pantai, aku lewat perkampungan padat.

Kebanyakan rumah-rumah itu berukuran kecil, panjang x lebar sekitar 3×2 meter tampak depan. Tinggi rumah itu yang bikin aku jadi penuh tanda tanya. Karena rumah – rumah itu rata-rata tingginya (pintu masuk) tidak lebih dari 2 meter, yang kurang dari 2 meter juga banyak. Jarak jendela dengan permukaan tanah hanya sekitar 10 sampai 15 centi, beberapa pagar mereka juga seperti ditimbun, jadi yang kelihatan hanya separoh dari keseluruhan pagar. Tanda tanya semakin besar, ketika menemukan teras rumah yang tergenang airsekitar 10 centi, airnya agak kehitaman, dan kelihatan seperti kolam berlumut. Disekitar teras rumah itu ada 3 orang anak kecil yang memegang jaring serok, mereka mencari ikan dari teras rumah itu..Memang, rumah itu sudah tidak dihuni. Tak jauh dari situ, juga ada rumah dengan teras seperti kolam. Tapi rumah itu masih dihuni, jadi kalo penghuninya mau masuk, harus melewati batu-batu atau balok kayu yang ditata sedemikian rupa agar kaki si penghuni gak kena air.

“Ya ini kena rob…”seorang laki-laki umur 50 tahunan bercerita tentang penyebab pagar rumahnya tinggal separo, separonya lagi sudah ‘dimakan’ tanah. Menurutnya, air laut yang masuk ke perkampungan datang tanpa bisa dihindari. Bisa datang ketika penghuni rumah tidur nyenyak, atau ketika asik leyeh-leyeh di lantai sambil nonton TV. Belum lagi kalau hujan turun, pasti tinggi muka airnya akan lebih cepat naik, dan turnnya juga gak cepat-cepat amat. Rob menyisakan lumpur yang tak mungkin dibersihkan dan dikembalikan ke laut. Jadi warga memilih membiarkan lumpur menempel dan bertambah tebal di lantai rumah mereka atau di halaman mereka atau di sekitar pagar rumah mereka. Untuk menghindari rob, penghuni cuma bisa menambah ketinggian lantai. Atau kalo mereka punya uang lebih, dinding dan atap juga ditinggikan, seimbang dengan lantainya. Karena untuk menambah ketinggian lantai dengan batuan saja (tanpa semen dan pasir), untuk 1 rumah berlantai 3×5 meter dibutuhkan uang sekitar 1-2 juta rupiah. Kalo tak ada uang berlebih???Ya lantai akan mengejar atap. Tak heran kalo di pesisir utara itu kita akan banyak menjumpai rumah dengan pintu yang sangat pendek, jadi harus menundukkan kepala untuk masuk kedalam rumah. Terasa aneh karena ini bukan rumah adat seperti yang di gambar-gambar..

Kenapa mereka gak pindah saja..tinggal di tempat yang lebih layak..???

“Ah enak disini…lebih tentram..tetangga ada yang pindah, tapi kembali lagi karena gak betah di tempat yang baru..”. Seorang ibu beranak 6 mengatakan itu seolah membanggakan kenyamanan rumahnya, yang tingginya sekarang 1,5 meter dari sebelumnya 3,5 meter. Setidaknyaman apapun rumah mereka buat aku, mereka tetap bertahan tinggal, turun temurun..Karena inilah rumah mereka..surga bagi mereka..Home Sweet Home..(Still??????)

Sebelum hujan deras turun di Semarang, January 26, 2006

First Trip

Tuesday, January 17th, 2006

“Mangga’…” seorang perempuan paruh baya dengan rambut terurai sepinggang mempersilahkan orang yang duduk melingkar di ruang tengah rumah panggungnya untuk mengambil makanan yang disuguhkan.

Dua buah tumpeng setinggi kira-kira 30cm di hadapanku menunggu diobrak abrik. Satu berwarna putih, satu lagi berwarna merah. Sementara sekitar 10 piring kecil berisi berbagai macam lauk dan sayur juga menunggu dicomot. Sambal goreng kentang, ikan bumbu merah, semur daging, acar kuning, dan tumis lombok ijo. Nah yang terakhir ini..nampaknya makanan kesukaan perempuan istri ketua adat. Karena dengan santainya dia mencomot lombok ijo seukuran sosis itu. Tanpa ragu digigitnya seperti buncis saja. Tidakkah pedas..???

Perlahan aku runtuhkan tumpeng berwarna putih. Rupanya bukan tumpeng padat seperti pada umumnya. Karena dari dalam tumpeng itu menyembul gumpalan berwarna kuning. Seperti parutan kelapa berbumbu kunir, dilengkapi cuilan daging ikan tongkol.

“Ini apa bu..???”

“Coba saja..” ah…untuk tahu namanya saja ibu ini enggan menjelaskan..apalagi bumbunya..Jadilah aku hanya menebak-nebak bumbu masakan dari dalam tumpeng itu.

Aku juga tertarik untuk mencoba tumpeng berwarna merah. Tumpeng dari beras merah itu tampaknya baru matang. Karena masih terasa hangat dan aroma pandannya masih kuat sekali. Seperti tumpeng warna putih tadi, tumpeng beras merah ini juga diisi masakan Serundeng Tongkol Kuning, sebut saja begitu. Terasa lebih nikmat karena hangat dan wanginya.

Penghuni 100 rumah lebih di kampung itu sedang melakukan hal yang sama. Makan tumpeng. Sebelumnya tumpeng-tumpeng itu dikumpulkan di masjid (mungkin lebih tepat surau..) oleh kaum perempuan. Perempuan-perempuan itu berdatangan ke surau setelah mendengar bunyi kentongan selepas solat duhur. Sepulang kaum lelaki di kampung itu dari makam leluhurnya. Para lelaki dan ketua adat membersihkan makam leluhur mereka diatas bukit sekaligus memanjatkan doa. Mereka memakai jubah putih, sarung, ikat kepala, dan membawa sapu lidi. Setelah tumpeng-tumpeng itu dikumpulkan di surau, ketua adat memimpin doa. Tumpeng-tumpeng dibawa kembali ke rumah masing-masing setelah doa selesai, dan warga makan di rumah masing-masing.

“Kami melakukan hal serupa setiap hari besar Islam” Ketua Adat Kampung Naga Tasikmalaya Jawa Barat, Ade Suherlin, menjelaskan tentang upacara Hajat Sasih yang digelar siang itu, 2 hari setelah Idul Adha. Total dalam setahun mereka menggelar 6 kali Hajat Sasih. Sederhana tapi sakral.

Hujan kemudian mengguyur..membasahi lembah yang dihuni warga Kampung Naga. Seperti menguji keampuhan adat dan tradisi Kampung Naga yang sarat tabu, tanpa bencana longsor atau banjir bandang seperti kebanyakan daerah di kaki bukit.

First Trip, January 11-16, 2006

The First Twenty One Months

Thursday, January 5th, 2006

3 January 2006, ‘rumah’ baruku lepas magrib itu cukup riuh. Kalo biasanya hanya ada aku dan seorang pekerja anak, kali ini ada Om ku,tante,ibunya,dan 2 orang adiknya, dan seorang pendatang baru di dunia, bayi perempuan berusia 3 hari. Adik tanteku yang bekerja di Unocal sibuk membalik-balik sebuah buku yang ingin segera diisi,

“Ci, masih inget gak first nine months nya dulu gemana?”

Tanteku yang keturunan tionghoa itu mencoba mengingat-ingat saat pertama dinyatakan hamil,” Oya..waktu itu tanggal 2 april..”

Sayang buku semacam diary itu baru didapat setelah si bayi lahir, jadi Tanteku agak kesulitan mengingat detail apa saja yang  terjadi selama sekitar 9 bulan lalu.

4 January 2006, The First Twenty One Months. Kelancaran perjalanan Pasar Minggu – Cilandak membuka lembaran pertama hari kerjaku di Internews Indonesia. Rapat program bersama 7 orang bagian program seperti sebuah ketukan pintu menuju perjalanan panjang mengembangkan sebagian kecil radio di Sumatera Utara dan Jawa. Sebuah travel mate Acer 380 akan menjadi partner setia kerjaku.

*

Dalam rapat program terungkap tentang keberadaan radio-radio (news) di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Tak semuanya sehat dan exist. Terutama di beberapa daerah ‘tanggung’ di Jawa Tengah. Radio setempat tak mampu bersaing dengan ‘radio transmigran’. Pendengar lebih memberi tempat kepada radio pendatang itu ketimbang radio lokal…

Sementara di Jawa Timur..mungkin kondisinya lebih mendingan, radio transmigran belum mampu menggeser radio lokal yang sudah cukup kuat mengikat pendengar.

*

Senja mulai menghampiri, dan saatnya aku kembali ke ‘rumah’. Kutinggalkan kantor ketika tinggal beberapa orang saja yang belum pulang. Mengikuti saran orang-orang, aku pulang melewati jalur berbeda dengan ketika aku berangkat. Meski sedikit macet, kunikmati saja. Kupikir inilah yang akan kujalani sekitar 21 bulan ke depan.

Jakarta, January 2005