First Trip
“Mangga’…” seorang perempuan paruh baya dengan rambut terurai sepinggang mempersilahkan orang yang duduk melingkar di ruang tengah rumah panggungnya untuk mengambil makanan yang disuguhkan.
Dua buah tumpeng setinggi kira-kira 30cm di hadapanku menunggu diobrak abrik. Satu berwarna putih, satu lagi berwarna merah. Sementara sekitar 10 piring kecil berisi berbagai macam lauk dan sayur juga menunggu dicomot. Sambal goreng kentang, ikan bumbu merah, semur daging, acar kuning, dan tumis lombok ijo. Nah yang terakhir ini..nampaknya makanan kesukaan perempuan istri ketua adat. Karena dengan santainya dia mencomot lombok ijo seukuran sosis itu. Tanpa ragu digigitnya seperti buncis saja. Tidakkah pedas..???
Perlahan aku runtuhkan tumpeng berwarna putih. Rupanya bukan tumpeng padat seperti pada umumnya. Karena dari dalam tumpeng itu menyembul gumpalan berwarna kuning. Seperti parutan kelapa berbumbu kunir, dilengkapi cuilan daging ikan tongkol.
“Ini apa bu..???”
“Coba saja..” ah…untuk tahu namanya saja ibu ini enggan menjelaskan..apalagi bumbunya..Jadilah aku hanya menebak-nebak bumbu masakan dari dalam tumpeng itu.
Aku juga tertarik untuk mencoba tumpeng berwarna merah. Tumpeng dari beras merah itu tampaknya baru matang. Karena masih terasa hangat dan aroma pandannya masih kuat sekali. Seperti tumpeng warna putih tadi, tumpeng beras merah ini juga diisi masakan Serundeng Tongkol Kuning, sebut saja begitu. Terasa lebih nikmat karena hangat dan wanginya.
Penghuni 100 rumah lebih di kampung itu sedang melakukan hal yang sama. Makan tumpeng. Sebelumnya tumpeng-tumpeng itu dikumpulkan di masjid (mungkin lebih tepat surau..) oleh kaum perempuan. Perempuan-perempuan itu berdatangan ke surau setelah mendengar bunyi kentongan selepas solat duhur. Sepulang kaum lelaki di kampung itu dari makam leluhurnya. Para lelaki dan ketua adat membersihkan makam leluhur mereka diatas bukit sekaligus memanjatkan doa. Mereka memakai jubah putih, sarung, ikat kepala, dan membawa sapu lidi. Setelah tumpeng-tumpeng itu dikumpulkan di surau, ketua adat memimpin doa. Tumpeng-tumpeng dibawa kembali ke rumah masing-masing setelah doa selesai, dan warga makan di rumah masing-masing.
“Kami melakukan hal serupa setiap hari besar Islam” Ketua Adat Kampung Naga Tasikmalaya Jawa Barat, Ade Suherlin, menjelaskan tentang upacara Hajat Sasih yang digelar siang itu, 2 hari setelah Idul Adha. Total dalam setahun mereka menggelar 6 kali Hajat Sasih. Sederhana tapi sakral.
Hujan kemudian mengguyur..membasahi lembah yang dihuni warga Kampung Naga. Seperti menguji keampuhan adat dan tradisi Kampung Naga yang sarat tabu, tanpa bencana longsor atau banjir bandang seperti kebanyakan daerah di kaki bukit.
First Trip, January 11-16, 2006