Home Sweet Home??????

Angin kenceeeeeennnng banget, waktu aku sampe di pesisir utara Semarang. Ibu kota propinsi ini ternyata punya permasalahan besar, yang entah bisa diatasi nantinya atau tidak. Sekitar 3 kilometer sebelum mencapai bibir pantai, aku lewat perkampungan padat.

Kebanyakan rumah-rumah itu berukuran kecil, panjang x lebar sekitar 3×2 meter tampak depan. Tinggi rumah itu yang bikin aku jadi penuh tanda tanya. Karena rumah – rumah itu rata-rata tingginya (pintu masuk) tidak lebih dari 2 meter, yang kurang dari 2 meter juga banyak. Jarak jendela dengan permukaan tanah hanya sekitar 10 sampai 15 centi, beberapa pagar mereka juga seperti ditimbun, jadi yang kelihatan hanya separoh dari keseluruhan pagar. Tanda tanya semakin besar, ketika menemukan teras rumah yang tergenang airsekitar 10 centi, airnya agak kehitaman, dan kelihatan seperti kolam berlumut. Disekitar teras rumah itu ada 3 orang anak kecil yang memegang jaring serok, mereka mencari ikan dari teras rumah itu..Memang, rumah itu sudah tidak dihuni. Tak jauh dari situ, juga ada rumah dengan teras seperti kolam. Tapi rumah itu masih dihuni, jadi kalo penghuninya mau masuk, harus melewati batu-batu atau balok kayu yang ditata sedemikian rupa agar kaki si penghuni gak kena air.

“Ya ini kena rob…”seorang laki-laki umur 50 tahunan bercerita tentang penyebab pagar rumahnya tinggal separo, separonya lagi sudah ‘dimakan’ tanah. Menurutnya, air laut yang masuk ke perkampungan datang tanpa bisa dihindari. Bisa datang ketika penghuni rumah tidur nyenyak, atau ketika asik leyeh-leyeh di lantai sambil nonton TV. Belum lagi kalau hujan turun, pasti tinggi muka airnya akan lebih cepat naik, dan turnnya juga gak cepat-cepat amat. Rob menyisakan lumpur yang tak mungkin dibersihkan dan dikembalikan ke laut. Jadi warga memilih membiarkan lumpur menempel dan bertambah tebal di lantai rumah mereka atau di halaman mereka atau di sekitar pagar rumah mereka. Untuk menghindari rob, penghuni cuma bisa menambah ketinggian lantai. Atau kalo mereka punya uang lebih, dinding dan atap juga ditinggikan, seimbang dengan lantainya. Karena untuk menambah ketinggian lantai dengan batuan saja (tanpa semen dan pasir), untuk 1 rumah berlantai 3×5 meter dibutuhkan uang sekitar 1-2 juta rupiah. Kalo tak ada uang berlebih???Ya lantai akan mengejar atap. Tak heran kalo di pesisir utara itu kita akan banyak menjumpai rumah dengan pintu yang sangat pendek, jadi harus menundukkan kepala untuk masuk kedalam rumah. Terasa aneh karena ini bukan rumah adat seperti yang di gambar-gambar..

Kenapa mereka gak pindah saja..tinggal di tempat yang lebih layak..???

“Ah enak disini…lebih tentram..tetangga ada yang pindah, tapi kembali lagi karena gak betah di tempat yang baru..”. Seorang ibu beranak 6 mengatakan itu seolah membanggakan kenyamanan rumahnya, yang tingginya sekarang 1,5 meter dari sebelumnya 3,5 meter. Setidaknyaman apapun rumah mereka buat aku, mereka tetap bertahan tinggal, turun temurun..Karena inilah rumah mereka..surga bagi mereka..Home Sweet Home..(Still??????)

Sebelum hujan deras turun di Semarang, January 26, 2006

Leave a Reply