Archive for March, 2006

KJ (it’s not KilimanJaro) ;)

Monday, March 20th, 2006

Membayangkan perjalanan laut selama 2 jam ke Karimun Jawa, menurutku tidak akan terlalu membosankan. Apalagi ini pertama kalinya, sambil wawancara pula. Tapi perkiraan itu tiba-tiba buyar, ketika jam menunjukkan jam 11 siang sementara tanda-tanda mendarat belum tampak. Setitik pulaupun belum kelihatan.Padahal menurut informasi awal, kapal cepat dengan kelas ekonomi, bisnis, dan eksekutif yang berangkat jam 9 pagi dari Pelabuhan Tanjung Mas Semarang ini, akan sampai di Karimun Jawa dalam 2 jam. Ketika jam menunjukkan jam 12 siang, ombak mulai besar, cuaca hujan, kepala mulai tak seimbang alias sedikit pusing, perut lapar, kubuka bekal yang kubeli di pelabuhan tadi. Sambil duduk di kelas bisnis yang full AC, gemelutuk kacang bogor diantara gigiku seperti menyeimbangkan saraf-saraf di kepalaku, sehingga rasa pusing perlahan berkurang berganti dengan kenikmatan mengunyah kacang bogor yang gurih. Tampaknya camilan berasa asin atau gurih sangat tepat dimakan disaat-saat seperti ini. Karena ketika di buritan, aku melihat orang-orang ngemil keripik singkong keju, kentang keju, dan camilan gurih lainnya. Mungkin kalau ngemil makanan manis akan menambah rasa eneg di perut..Aku sendiri ngemil sampai terasa ngantuk dan terbangun ketika kapal hampir merapat. Jam 1 siang.

Si mata sipit Susi menyambutku di pelabuhan Karimun Jawa. Teman semasa di Padepokan Oranye di Malang  ini bertugas di Karimun Jawa sejak tahun 2001 an dan terakhir kutemui di acara pernikahannya di Sidoarjo 2003 lalu. Dengan semangat dia menanyakan schedule ku selama di Karimun Jawa yang termasuk wilayah administrasi kabupaten Jepara. Rupanya dia yang akan banyak menemaniku selama di pulau berpenduduk 5 ribu orang ini. Dengan mengendarai mobil operasional Taman Nasional, aku bisa sampai di homestay ‘Hamfah’. Homestay murah meriah, 100 ribu per hari termasuk makan sehari 3 kali. Tapi kondisinya memang tak senyaman hotel bintang 1 sekalipun, tanpa AC, hanya ada kipas angin portable, kamar mandi diluar. Tapi buatku cukuplah, apalagi aku butuh tempat yang menyatu dengan warga setempat dan memberikan suasana kekeluargaan. Ada 5 kamar di home stay ini, dan di kamarku ada 2 tempat tidur untuk 3 orang. Kebetulan ada 2 wartawati lain yang 1 kamar denganku. Banyak homestay serupa di pulau Karimun ini, ada juga hotel dengan fasilitas AC dan kamar mandi di dalam. Ada juga penginapan yang dibuat di tengah laut dengan fasilitas dan harga yang bervariasi. Sebuah penginapan apung dibangun diatas ‘kolam laut’ berisi ikan pemakan daging, seperti hiu dan barakuda. Lantai dan dinding penginapan itu terbuat dari kayu. Ada juga resort mewah milik warga asing yang dibangun di pulau lain di kepulauan Karimun Jawa.

Selama di Karimun Jawa aku hanya mengunjungi bibir pantai pulau Menjangan Besar, menggunakan perahu motor sekitar 5 menit saja dari Karimun. Pulau Menjangan Besar ini milik seorang pengusaha Tionghoa asal Semarang. Aku juga mendapat kesempatan ngobrol dengan pemilik pulau itu sewaktu di kapal. Dia membeli pulau itu puluhan tahun yang lalu dengan harga sekitar 35 rupiah per meter persegi, sementara luas pulau Menjangan Besar sekitar 5 hektar. Taman Nasional sendiri numpang untuk lahan konservasi penyu mereka di pulau Menjangan Besar. Dan bukan cuma pulau Menjangan Besar yang jadi milik pribadi. 22 pulau dari 27 pulau di dalam kawasan taman Nasional adalah milik pribadi, bukan sekedar hak pakai. Tapi ada yang memanfaatkan bibir pantai pulau Menjangan Besar yang jernih itu, dengan budidaya ikan laut, seperti ikan Kerapu dan ikan Lody.

Si mata sipit Susi banyak memberiku informasi untuk mengenali kawasan Taman Nasional, layaknya seorang guide. Akhirnya dia melepas kepulanganku ke Semarang. Sama- sama punya harapan bisa bertemu di Karimun Jawa lagi dengan situasi yang lebih baik. Bisa menikmati sunset di Menjangan Kecil, yang katanya luar biasa indahnya. Bisa ke Pulau Parang yang katanya banyak terdapat buah-buahan. Bisa ke Legon Lele, tempat terindah di Pulau Karimun Jawa. Bisa ke Pulau Kemujan, pulau padat mangrove di utara Karimun yang hanya dihubungkan sebuah jembatan dari Pulau Karimun. Meski dalam waktu dan jangakuan yang terbatas, setidaknya daftar Taman Nasional yang pernah aku kunjungi bertambah 1. Setelah Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, Taman Nasional Ujung Kulon, Taman Nasional Alas Purwo, dan Taman Nasional Baluran. Sayonara. Oya..aku ingin ke pulau ini lagi membawa sepeda ;)

March 19, it’s my sister’s birthday.

Rindu Tebal

Friday, March 17th, 2006

Aku merasakan hawa dingin dari kaca jendela mobil. Kaca mobil yang ketika akan ditutup lagi harus dibantu ditarik.  Ketika menyusuri jalan makadam dengan kecepatan kurang dari 20 km/jam, aroma tak sedap menyeruak kedalam mobil, beberapa ekor lalat juga ikut masuk. Ah..rupanya bau itu berasal dari tumpukan pupuk kandang di tepi jalan. 2 orang laki-laki berada di tengah-tengah tumpukan itu tersenyum ramah menyapa penumpang mobil yang lewat. Sementara laki-laki lainnya berjalan menjauhi tumpukan kotoran itu sambil membawa keranjang di kepalanya, yang penuh kotoran tadi. Apa mereka sedang flu?hidung mereka tersumbat?sehingga tak mencium aroma yang…terbawa kedalam mobil meski sudah berjarak 50 meter masih juga tercium…Kondisi yang sangat biasa terjadi di perkebunan dataran tinggi.

Berjalan menyusuri jalan dusun Brajan kecamatan Pakis kabupaten Magelang yang menanjak ini seperti membawa ingatanku kembali ke lokasi PKL ku tahun 1999 lalu. Di dusun Ranu Pani desa Argosari Lumajang, di kaki Gunung Semeru. Hawa gunung yang menusuk kulit, orang-orang dengan pipi merah, air dari selang atau pipa yang mengucur terus menerus di hampir setiap halaman rumah. Rumah-rumah berlantai tanah..atapnya tak terlalu tinggi..dan bunga-bunga liar berwarna mencolok yang tumbuh liar di halaman. Bedanyakali ini aku menemui  sebuah keluarga, dengan 2 orang anak perempuan masing masing umurnya 10 tahun dan 2 setengah tahun yang diduga mengalami gangguan akibat kekurangan iodium.

Rumah keluarga ini terbuat dari kayu. Hanya ada ruang tamu, 1 ‘kamar tidur’sebut saja begitu, dan 1 dapur. Di ruang berfungsi sebagai kamar itu Cuma ada sebuah bale bambu yang diberi alas karpet hijau dan dilengkapi beberapa buah bantal lusuh bin kempet. Ibu anak itu meraih anak perempuan yang berumur 10 tahun. Kain alas tidur anak perempuan itu basah, dan ibunya mengambilkan celana dan dengan telaten memakaikan pada anak itu. Anak umur 10 tahun itu bukan sakit biasa. 10 tahun ini dia hanya bisa berbaring..tak bisa duduk sendiri, berdiri, apalagi berjalan. Tinggi badannya tak kurang dari 100 cm. Anak itu hanya bisa meneriakkan AAA….untuk berkomunikasi dengan orang lain..dan tentu saja menangis. Ketika kulihat matanya, tampak tak fokus memandang sesuatu.

Aku meninggalkan desa itu dengan rasa yang campur aduk. Sampai kapan kedua anak itu akan bertahan dengan kondisi seperti itu? Bagaimana ketika usianya mencapai 17 tahun nanti?Bagaimana orang tuanya ketika sudah tak sanggup merawat keduanya?Dan kenapa suami ibu itu tak membantu merawat kedua anaknya?Untuk pertanyaan yang terakhir ini aku diberitahu warga setempat, kalau suaminya menikah lagi atas permintaan si istri..

“Ketep Pass” sebuah tulisan besar di dekat areal parkir di puncak perbukitan menghapuskan semua pertanyaan-pertanyaan tentang keluarga di dusun Brajan tadi. Aku kemudian larut dalam sensasi melepaskan rindu pada pegunungan dan hawa dingin. Dari Ketep Pass ini aku bisa melihat gunung Merapi dan Merbabu bersisian, meski puncaknya tertutup kabut. Dari tempat ini juga aku bisa melihat di kejauhan jalur yang membelah merapi merbabu. Kalo gak salah namanya Selo..jalur yang dibuat pemprov Jateng untuk mengalihkan wisatawan dari Jogja. Pemprov Jateng kabarnya ingin wisatawan dari Solo tak perlu melalui Jogja untuk menuju Borobudur. Begitu juga sebaliknya. Tapi kalau aku boleh memilih..Jogja tetap wajib untuk disinggahi..

Perjalananpun terus berlanjut..semakin jauh dari hawa dingin kaki Merapi – Merbabu. Dan kembali menyimpan kerinduan akan hawa dingin..gemuruh angin gunung..dan kabut yang belum sempat kujumpai di merapi-merbabu. Ntah kapan rindu itu akan terurai kembali…..

Jelang purnama Maret 2006, Magelang.

Karena Aku Perempuan

Wednesday, March 8th, 2006

Hari 8 Maret 2006, aku diingatkan tentang hari perempuan internasional. Apa bedanya dengan hari ibu? Apakah sejenis dengan Hari Anti kekerasan terhadap Perempuan? Tema mungkin sejenis..tapi intinya sama, mengingatkan kalo belum semua perempuan mendapatkan perlakuan yang layak, mendapatkan haknya, sekalipun perempuan sudah menjalankan kewajibannya.

Beberapa media elektronik hari ini memuat banyak informasi tentang peringatan hari perempuan internasional. Ada yang dengan berdemo..ada yang dengan menyatakan penolakan terhadap Undang-undang Anti Pornografi dan Pornoaksi..ada yang mengkampanyekan apalah yang menjadi masalah pelik perempuan.

Perempuan memang makhluk yang komplek, meskipun tak semua kaum menganggap demikian. Contohnya kaum yang menganggap remeh peran perempuan, kaum yang seenaknya memperlakukan perempuan, kaum yang mendiskriminasikan perempuan, kaum yang memposisikan perempuan sebagai ‘penyebab’ suatu penyakit masyarakat..

Dalam berbagai hal perempuan memang lebih rentan. Lebih beresiko ketika melakukan segala hal. Secara anatomis, biologis, dan psikologis saja, perempuan sudah lebih komplek dibanding laki-laki. Jadi kalo perempuan ‘ceroboh’ sedikit aja dampaknya bisa kemana-mana.

Ah, tapi aku tidak menyesal dilahirkan sebagai perempuan. Apalagi setelah membaca kiriman tulisan dari seorang teman:

Seorang anak laki-laki kecil bertanya kepada ibunya,

"Mengapa engkau menangis?"

"Karena aku seorang perempuan", kata sang ibu kepadanya.

"Aku tidak mengerti", kata anak itu.

Ibunya hanya memeluknya dan berkata,

"Dan kau tak akan pernah mengerti"

Kemudian anak laki-laki itu bertanya kepada ayahnya,

"Mengapa ibu suka menangis tanpa alasan?"

"Semua perempuan menangis tanpa alasan",

hanya itu yang dapat dikatakan oleh ayahnya.

Anak laki-laki kecil itu pun lalu tumbuh menjadi seorang laki-laki dewasa, tetap ingin tahu mengapa perempuan menangis.

Akhirnya ia menghubungi Tuhan, dan ia bertanya,

"Tuhan, mengapa perempuan begitu mudah menangis?"   

Tuhan berkata:

"Ketika Aku menciptakan seorang perempuan, ia diharuskan untuk menjadi seorang yang istimewa. Aku membuat bahunya cukup kuat untuk menopang dunia; namun, harus cukup lembut untuk memberikan kenyamanan "

"Aku memberikannya kekuatan dari dalam untuk mampu melahirkan anak dan menerima penolakan yang seringkali datang dari anak-anaknya "

"Aku memberinya kekerasan untuk membuatnya tetap tegar ketika orang-orang lain menyerah, dan mengasuh keluarganya dengan penderitaan dan kelelahan tanpa mengeluh "

"Aku memberinya kepekaan untuk mencintai anak-anaknya dalam setiap keadaan, bahkan ketika anaknya bersikap sangat menyakiti hatinya "

"Aku memberinya kekuatan untuk mendukung suaminya dalam kegagalannya dan melengkapi dengan tulang rusuk suaminya untuk melindungi hatinya "

"Aku memberinya kebijaksanaan untuk mengetahui bahwa seorang suami yang baik takkan pernah menyakiti isterinya, tetapi kadang menguji kekuatannya dan ketetapan hatinya untuk berada disisi suaminya tanpa ragu "

"Dan akhirnya, Aku memberinya air mata untuk diteteskan.

Ini adalah khusus miliknya untuk digunakan kapan pun ia butuhkan."

"Kau tahu:

Kecantikan seorang perempuan bukanlah dari pakaian yang dikenakannya, sosok yang ia tampilkan, atau bagaimana ia menyisir rambutnya."

"Kecantikan seorang perempuan harus dilihat dari matanya, karena itulah pintu hatinya - tempat dimana cinta itu ada."