Karena Aku Perempuan
Hari 8 Maret 2006, aku diingatkan tentang hari perempuan internasional. Apa bedanya dengan hari ibu? Apakah sejenis dengan Hari Anti kekerasan terhadap Perempuan? Tema mungkin sejenis..tapi intinya sama, mengingatkan kalo belum semua perempuan mendapatkan perlakuan yang layak, mendapatkan haknya, sekalipun perempuan sudah menjalankan kewajibannya.
Beberapa media elektronik hari ini memuat banyak informasi tentang peringatan hari perempuan internasional. Ada yang dengan berdemo..ada yang dengan menyatakan penolakan terhadap Undang-undang Anti Pornografi dan Pornoaksi..ada yang mengkampanyekan apalah yang menjadi masalah pelik perempuan.
Perempuan memang makhluk yang komplek, meskipun tak semua kaum menganggap demikian. Contohnya kaum yang menganggap remeh peran perempuan, kaum yang seenaknya memperlakukan perempuan, kaum yang mendiskriminasikan perempuan, kaum yang memposisikan perempuan sebagai ‘penyebab’ suatu penyakit masyarakat..
Dalam berbagai hal perempuan memang lebih rentan. Lebih beresiko ketika melakukan segala hal. Secara anatomis, biologis, dan psikologis saja, perempuan sudah lebih komplek dibanding laki-laki. Jadi kalo perempuan ‘ceroboh’ sedikit aja dampaknya bisa kemana-mana.
Ah, tapi aku tidak menyesal dilahirkan sebagai perempuan. Apalagi setelah membaca kiriman tulisan dari seorang teman:
Seorang anak laki-laki kecil bertanya kepada ibunya,
"Mengapa engkau menangis?"
"Karena aku seorang perempuan", kata sang ibu kepadanya.
"Aku tidak mengerti", kata anak itu.
Ibunya hanya memeluknya dan berkata,
"Dan kau tak akan pernah mengerti"
Kemudian anak laki-laki itu bertanya kepada ayahnya,
"Mengapa ibu suka menangis tanpa alasan?"
"Semua perempuan menangis tanpa alasan",
hanya itu yang dapat dikatakan oleh ayahnya.
Anak laki-laki kecil itu pun lalu tumbuh menjadi seorang laki-laki dewasa, tetap ingin tahu mengapa perempuan menangis.
Akhirnya ia menghubungi Tuhan, dan ia bertanya,
"Tuhan, mengapa perempuan begitu mudah menangis?"
Tuhan berkata:
"Ketika Aku menciptakan seorang perempuan, ia diharuskan untuk menjadi seorang yang istimewa. Aku membuat bahunya cukup kuat untuk menopang dunia; namun, harus cukup lembut untuk memberikan kenyamanan "
"Aku memberikannya kekuatan dari dalam untuk mampu melahirkan anak dan menerima penolakan yang seringkali datang dari anak-anaknya "
"Aku memberinya kekerasan untuk membuatnya tetap tegar ketika orang-orang lain menyerah, dan mengasuh keluarganya dengan penderitaan dan kelelahan tanpa mengeluh "
"Aku memberinya kepekaan untuk mencintai anak-anaknya dalam setiap keadaan, bahkan ketika anaknya bersikap sangat menyakiti hatinya "
"Aku memberinya kekuatan untuk mendukung suaminya dalam kegagalannya dan melengkapi dengan tulang rusuk suaminya untuk melindungi hatinya "
"Aku memberinya kebijaksanaan untuk mengetahui bahwa seorang suami yang baik takkan pernah menyakiti isterinya, tetapi kadang menguji kekuatannya dan ketetapan hatinya untuk berada disisi suaminya tanpa ragu "
"Dan akhirnya, Aku memberinya air mata untuk diteteskan.
Ini adalah khusus miliknya untuk digunakan kapan pun ia butuhkan."
"Kau tahu:
Kecantikan seorang perempuan bukanlah dari pakaian yang dikenakannya, sosok yang ia tampilkan, atau bagaimana ia menyisir rambutnya."
"Kecantikan seorang perempuan harus dilihat dari matanya, karena itulah pintu hatinya - tempat dimana cinta itu ada."