Gowes..Gowes..No Kring..Kring…
February 8th, 2006 by dianekaDengan susah payah aku berhasil mengajaknya menuju base camp Jalur Jatiasih,tempat berkumpulnya penggemar mountain bike. Distance doesn’t matter..untuk hal baru yang pengen banget aku coba. Dengan sepeda motor rute Pamulang-Jatiasih dilibas habis dalam waktu sekitar 1 jam, lalu lintas cukup padat untuk ukuran hari libur.
Sampai di lokasi yang kupikir-pikir memang jauh dari ‘titik start’ (tak heran kalau membuatnya enggan menuruti keinginanku), puluhan biker sudah selesai melakukan trip dan menyantap menu tumpengan, agenda lain hari itu.
Aku bersalaman dengan beberapa orang peserta Sepeda Jelajah Nusantara ke 5 di Bromo. Pertemuan itu menjadi heboh karena ada kisah yang berlanjut setelah pertemuan terakhir di Bromo September 2005. Mereka mendaulat aku menjajal Jalur Jatiasih. Sebelumnya mereka menunjukkan gambar jalur yang bakal dijajal itu yang dimuat di sebuah majalah khusus penggemar sepeda. Ada yang khas dari jalur sepanjang 2,2 km itu, tanjakan INUL..Yang terbayang mungkin tanjakan yang menyenangkan..atau tanjakan yang bikin kita ‘megal-megol’..atau..tanjakan yang membutuhkan stamina tinggi..Coba aja deh..
Sebuah sepeda gunung milik anggota JJ yang sudah kuanggap kakak, dengan sukarela menjadi partner perdana. Hanya sebuah helm yang membuat aku kelihatan serius menekuni sepeda gunung. Hahaha..yah maklumlah, aku datang hanya dengan memakai celana kain biasa, kaos, jaket, dan sepatu keds. Aku bersepeda di belakang rombongan JJ’ers, didepannya yang sesekali memandu cara mengayuh sepeda yang benar. Di kanan kiri jalur itu penuh ilalang setinggi 1 meter, lebar jalan yang dilalui antara setengah sampai 1 meter. Kadang menikung tajam..kadang turun tajam..dan menanjak tajam di tanjakan INUL. Disitu aku hanya sanggup menuntun sepeda, karena posisi gir untuk jalan datar sama sekali tak aku ubah. Dia sudah menunggu di puncak tanjakan ditemani 2 orang JJ’ers yang stand by dengan membidikkan kamera digital. Di tanjakan kedua aku melakukan kesalahan tidak mengambil ancang-ancang. Karena sebelum tanjakan, jalur berupa turunan tajam dan berkelok. Yah..waktu itu aku belum terlalu berani untuk melepas rem di tangan, baik rem depan maupun rem belakang. Jadi ketika sampai di tanjakan tentu saja tanpa power. Aku masih di depannya yang terus memberitahu cara memindah posisi gir. Pemindahan gir harus dilakukan dengan cepat, terutama ketika di tanjakan, ya untuk menghindari adegan menuntun sepeda itu tadi…Sampai di akhir rute aku kembali ke base camp melalui jalan raya. Posisi gir sudah berubah untuk kondisi jalan datar..memang terasa sekali bedanya. Sampai di base camp aku merasa lebih enteng, badanku berkeringat, dan terasa pegal di beberapa bagian. Tapi aku senang..karena sudah sebulan lebih aku tidak berolahraga dan berkeringat banyak.
Di perjalanan pulang, terbersit untuk punya sepeda sendiri. Aku jadi tambah semangat, karena mendapat dukungannya..penuh.
Jatiasih, February 5, 2006