Gowes..Gowes..No Kring..Kring…

February 8th, 2006 by dianeka

Dengan susah payah aku berhasil mengajaknya menuju base camp Jalur Jatiasih,tempat berkumpulnya penggemar mountain bike. Distance doesn’t matter..untuk hal baru yang pengen banget aku coba. Dengan sepeda motor rute Pamulang-Jatiasih dilibas habis dalam waktu sekitar 1 jam, lalu lintas cukup padat untuk ukuran hari libur.

Sampai di lokasi yang kupikir-pikir memang jauh dari ‘titik start’ (tak heran kalau membuatnya enggan menuruti keinginanku), puluhan biker sudah selesai melakukan trip dan menyantap menu tumpengan, agenda lain hari itu.

Aku bersalaman dengan beberapa orang peserta Sepeda Jelajah Nusantara ke 5 di Bromo. Pertemuan itu menjadi heboh karena ada kisah yang berlanjut setelah pertemuan terakhir di Bromo September 2005. Mereka mendaulat aku menjajal Jalur Jatiasih. Sebelumnya mereka menunjukkan gambar jalur yang bakal dijajal itu yang dimuat di sebuah majalah khusus penggemar sepeda. Ada yang khas dari jalur sepanjang 2,2 km itu, tanjakan INUL..Yang terbayang mungkin tanjakan yang menyenangkan..atau tanjakan yang bikin kita ‘megal-megol’..atau..tanjakan yang membutuhkan stamina tinggi..Coba aja deh..

Sebuah sepeda gunung milik anggota JJ yang sudah kuanggap kakak, dengan sukarela menjadi partner perdana. Hanya sebuah helm yang membuat aku kelihatan serius menekuni sepeda gunung. Hahaha..yah maklumlah, aku datang hanya dengan memakai celana kain biasa, kaos, jaket, dan sepatu keds. Aku bersepeda di belakang rombongan JJ’ers, didepannya yang sesekali memandu cara mengayuh sepeda yang benar. Di kanan kiri jalur itu penuh ilalang setinggi 1 meter, lebar jalan yang dilalui antara setengah sampai 1 meter. Kadang menikung tajam..kadang turun tajam..dan menanjak tajam di tanjakan INUL. Disitu aku hanya sanggup menuntun sepeda, karena posisi gir untuk jalan datar sama sekali tak aku ubah. Dia sudah menunggu di puncak tanjakan ditemani 2 orang JJ’ers yang stand by dengan membidikkan kamera digital. Di tanjakan kedua aku melakukan kesalahan tidak mengambil ancang-ancang. Karena sebelum tanjakan, jalur berupa turunan tajam dan berkelok. Yah..waktu itu aku belum terlalu berani untuk melepas rem di tangan, baik rem depan maupun rem belakang. Jadi ketika sampai di tanjakan tentu saja tanpa power. Aku masih di depannya yang terus memberitahu cara memindah posisi gir. Pemindahan gir harus dilakukan dengan cepat, terutama ketika di tanjakan, ya untuk menghindari adegan menuntun sepeda itu tadi…Sampai di akhir rute aku kembali ke base camp melalui jalan raya. Posisi gir sudah berubah untuk kondisi jalan datar..memang terasa sekali bedanya. Sampai di base camp aku merasa lebih enteng, badanku berkeringat, dan terasa pegal di beberapa bagian. Tapi aku senang..karena sudah sebulan lebih aku tidak berolahraga dan berkeringat banyak.

Di perjalanan pulang, terbersit untuk punya sepeda sendiri. Aku jadi tambah semangat, karena mendapat dukungannya..penuh.

Jatiasih, February 5, 2006

Home Sweet Home??????

January 29th, 2006 by dianeka

Angin kenceeeeeennnng banget, waktu aku sampe di pesisir utara Semarang. Ibu kota propinsi ini ternyata punya permasalahan besar, yang entah bisa diatasi nantinya atau tidak. Sekitar 3 kilometer sebelum mencapai bibir pantai, aku lewat perkampungan padat.

Kebanyakan rumah-rumah itu berukuran kecil, panjang x lebar sekitar 3×2 meter tampak depan. Tinggi rumah itu yang bikin aku jadi penuh tanda tanya. Karena rumah – rumah itu rata-rata tingginya (pintu masuk) tidak lebih dari 2 meter, yang kurang dari 2 meter juga banyak. Jarak jendela dengan permukaan tanah hanya sekitar 10 sampai 15 centi, beberapa pagar mereka juga seperti ditimbun, jadi yang kelihatan hanya separoh dari keseluruhan pagar. Tanda tanya semakin besar, ketika menemukan teras rumah yang tergenang airsekitar 10 centi, airnya agak kehitaman, dan kelihatan seperti kolam berlumut. Disekitar teras rumah itu ada 3 orang anak kecil yang memegang jaring serok, mereka mencari ikan dari teras rumah itu..Memang, rumah itu sudah tidak dihuni. Tak jauh dari situ, juga ada rumah dengan teras seperti kolam. Tapi rumah itu masih dihuni, jadi kalo penghuninya mau masuk, harus melewati batu-batu atau balok kayu yang ditata sedemikian rupa agar kaki si penghuni gak kena air.

“Ya ini kena rob…”seorang laki-laki umur 50 tahunan bercerita tentang penyebab pagar rumahnya tinggal separo, separonya lagi sudah ‘dimakan’ tanah. Menurutnya, air laut yang masuk ke perkampungan datang tanpa bisa dihindari. Bisa datang ketika penghuni rumah tidur nyenyak, atau ketika asik leyeh-leyeh di lantai sambil nonton TV. Belum lagi kalau hujan turun, pasti tinggi muka airnya akan lebih cepat naik, dan turnnya juga gak cepat-cepat amat. Rob menyisakan lumpur yang tak mungkin dibersihkan dan dikembalikan ke laut. Jadi warga memilih membiarkan lumpur menempel dan bertambah tebal di lantai rumah mereka atau di halaman mereka atau di sekitar pagar rumah mereka. Untuk menghindari rob, penghuni cuma bisa menambah ketinggian lantai. Atau kalo mereka punya uang lebih, dinding dan atap juga ditinggikan, seimbang dengan lantainya. Karena untuk menambah ketinggian lantai dengan batuan saja (tanpa semen dan pasir), untuk 1 rumah berlantai 3×5 meter dibutuhkan uang sekitar 1-2 juta rupiah. Kalo tak ada uang berlebih???Ya lantai akan mengejar atap. Tak heran kalo di pesisir utara itu kita akan banyak menjumpai rumah dengan pintu yang sangat pendek, jadi harus menundukkan kepala untuk masuk kedalam rumah. Terasa aneh karena ini bukan rumah adat seperti yang di gambar-gambar..

Kenapa mereka gak pindah saja..tinggal di tempat yang lebih layak..???

“Ah enak disini…lebih tentram..tetangga ada yang pindah, tapi kembali lagi karena gak betah di tempat yang baru..”. Seorang ibu beranak 6 mengatakan itu seolah membanggakan kenyamanan rumahnya, yang tingginya sekarang 1,5 meter dari sebelumnya 3,5 meter. Setidaknyaman apapun rumah mereka buat aku, mereka tetap bertahan tinggal, turun temurun..Karena inilah rumah mereka..surga bagi mereka..Home Sweet Home..(Still??????)

Sebelum hujan deras turun di Semarang, January 26, 2006

First Trip

January 17th, 2006 by dianeka

“Mangga’…” seorang perempuan paruh baya dengan rambut terurai sepinggang mempersilahkan orang yang duduk melingkar di ruang tengah rumah panggungnya untuk mengambil makanan yang disuguhkan.

Dua buah tumpeng setinggi kira-kira 30cm di hadapanku menunggu diobrak abrik. Satu berwarna putih, satu lagi berwarna merah. Sementara sekitar 10 piring kecil berisi berbagai macam lauk dan sayur juga menunggu dicomot. Sambal goreng kentang, ikan bumbu merah, semur daging, acar kuning, dan tumis lombok ijo. Nah yang terakhir ini..nampaknya makanan kesukaan perempuan istri ketua adat. Karena dengan santainya dia mencomot lombok ijo seukuran sosis itu. Tanpa ragu digigitnya seperti buncis saja. Tidakkah pedas..???

Perlahan aku runtuhkan tumpeng berwarna putih. Rupanya bukan tumpeng padat seperti pada umumnya. Karena dari dalam tumpeng itu menyembul gumpalan berwarna kuning. Seperti parutan kelapa berbumbu kunir, dilengkapi cuilan daging ikan tongkol.

“Ini apa bu..???”

“Coba saja..” ah…untuk tahu namanya saja ibu ini enggan menjelaskan..apalagi bumbunya..Jadilah aku hanya menebak-nebak bumbu masakan dari dalam tumpeng itu.

Aku juga tertarik untuk mencoba tumpeng berwarna merah. Tumpeng dari beras merah itu tampaknya baru matang. Karena masih terasa hangat dan aroma pandannya masih kuat sekali. Seperti tumpeng warna putih tadi, tumpeng beras merah ini juga diisi masakan Serundeng Tongkol Kuning, sebut saja begitu. Terasa lebih nikmat karena hangat dan wanginya.

Penghuni 100 rumah lebih di kampung itu sedang melakukan hal yang sama. Makan tumpeng. Sebelumnya tumpeng-tumpeng itu dikumpulkan di masjid (mungkin lebih tepat surau..) oleh kaum perempuan. Perempuan-perempuan itu berdatangan ke surau setelah mendengar bunyi kentongan selepas solat duhur. Sepulang kaum lelaki di kampung itu dari makam leluhurnya. Para lelaki dan ketua adat membersihkan makam leluhur mereka diatas bukit sekaligus memanjatkan doa. Mereka memakai jubah putih, sarung, ikat kepala, dan membawa sapu lidi. Setelah tumpeng-tumpeng itu dikumpulkan di surau, ketua adat memimpin doa. Tumpeng-tumpeng dibawa kembali ke rumah masing-masing setelah doa selesai, dan warga makan di rumah masing-masing.

“Kami melakukan hal serupa setiap hari besar Islam” Ketua Adat Kampung Naga Tasikmalaya Jawa Barat, Ade Suherlin, menjelaskan tentang upacara Hajat Sasih yang digelar siang itu, 2 hari setelah Idul Adha. Total dalam setahun mereka menggelar 6 kali Hajat Sasih. Sederhana tapi sakral.

Hujan kemudian mengguyur..membasahi lembah yang dihuni warga Kampung Naga. Seperti menguji keampuhan adat dan tradisi Kampung Naga yang sarat tabu, tanpa bencana longsor atau banjir bandang seperti kebanyakan daerah di kaki bukit.

First Trip, January 11-16, 2006

The First Twenty One Months

January 5th, 2006 by dianeka

3 January 2006, ‘rumah’ baruku lepas magrib itu cukup riuh. Kalo biasanya hanya ada aku dan seorang pekerja anak, kali ini ada Om ku,tante,ibunya,dan 2 orang adiknya, dan seorang pendatang baru di dunia, bayi perempuan berusia 3 hari. Adik tanteku yang bekerja di Unocal sibuk membalik-balik sebuah buku yang ingin segera diisi,

“Ci, masih inget gak first nine months nya dulu gemana?”

Tanteku yang keturunan tionghoa itu mencoba mengingat-ingat saat pertama dinyatakan hamil,” Oya..waktu itu tanggal 2 april..”

Sayang buku semacam diary itu baru didapat setelah si bayi lahir, jadi Tanteku agak kesulitan mengingat detail apa saja yang  terjadi selama sekitar 9 bulan lalu.

4 January 2006, The First Twenty One Months. Kelancaran perjalanan Pasar Minggu – Cilandak membuka lembaran pertama hari kerjaku di Internews Indonesia. Rapat program bersama 7 orang bagian program seperti sebuah ketukan pintu menuju perjalanan panjang mengembangkan sebagian kecil radio di Sumatera Utara dan Jawa. Sebuah travel mate Acer 380 akan menjadi partner setia kerjaku.

*

Dalam rapat program terungkap tentang keberadaan radio-radio (news) di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Tak semuanya sehat dan exist. Terutama di beberapa daerah ‘tanggung’ di Jawa Tengah. Radio setempat tak mampu bersaing dengan ‘radio transmigran’. Pendengar lebih memberi tempat kepada radio pendatang itu ketimbang radio lokal…

Sementara di Jawa Timur..mungkin kondisinya lebih mendingan, radio transmigran belum mampu menggeser radio lokal yang sudah cukup kuat mengikat pendengar.

*

Senja mulai menghampiri, dan saatnya aku kembali ke ‘rumah’. Kutinggalkan kantor ketika tinggal beberapa orang saja yang belum pulang. Mengikuti saran orang-orang, aku pulang melewati jalur berbeda dengan ketika aku berangkat. Meski sedikit macet, kunikmati saja. Kupikir inilah yang akan kujalani sekitar 21 bulan ke depan.

Jakarta, January 2005

End Of Year

December 26th, 2005 by dianeka

Menjelang akhir
tahun 2005..Sudut kota Pamekasan seperti biasa dipenuhi terompet berwarna warni
dan gemerlap. Meski tak seramai akhir tahun lalu, para pedagang terompet yang
datang dari daratan Jawa itu seperti tetap optimis ada warga yang membutuhkan
terompet untuk menutup tahun 2005. Sementara hujan mengguyur hampir setiap
hari..sepanjang hari..sedikit sekali kesempatan terompet-terompet itu
‘melambaikan tangan’ pada calon pembeli. Karena mereka lebih banyak ditutupi
plastik kusam agar terhindar dari air hujan.

Terompet-terompet
itu juga belum tentu bisa bersahut-sahutan suara tepat di malam tahun baru.
Kalaupun bisa, pastilah bukan di jalanan seperti biasanya. Karena cuaca memang
kurang mendukung tampaknya. Kecuali ada orang yang nekat bermalam tahun baru
dan meniup terompet di jalanan meski hujan mengguyur..

Aku sendiri belum
tahu saat pergantian tahun nanti berada dimana dan punya agenda apa..Bisa jadi
akan berada di Surabaya menunggu saat keberangkatan ke Jakarta. Bisa jadi sudah
berada di perjalanan menuju Jakarta..Bisa jadi sedang sibuk-sibuknya packing di
rumah. Beberapa teman berharap bisa bertemu di Surabaya sebelum aku hijrah ke
Jakarta. Tapi entahlah..tiket keberangkatan saja belum aku pegang..

Meski begitu aku
mencoba membayangkan hari-hariku di tahun 2006. Meninggalkan teman-teman kerja
disini yang mengaku kehilangan semangat kerja setelah tahu aku akan resign per
Januari 2006…Kemudian berganti dengan lingkungan baru..keluarga baru..teman
kerja baru…semakin jauh dari orang tua yang setia menunggu kedatanganku di
akhir pekan..semakin jauh dari adik-adik yang tak pernah bosan memberiku
masukan..dan semakin dekat dengan calon pendamping hidupku..

Menurut seorang
sahabat, aku sudah menutup tahun 2005 ini dengan begitu indah..meski selama
tahun 2005 terasa cukup berat bagiku. Semoga..tahun 2006 akan jadi
milikku..ketika semua keinginanku terwujud di tahun ini..

SeLaMaT TaHuN
BaRu 2006..

 

Siapa Suruh Datang Jakarta..

December 13th, 2005 by dianeka

Ibu kota sedang berhati
tenang..bersahabat..dan menyambut baik kehadiranku. Mungkin karena aku datang
dengan niat baik hehehhe..

**

Kereta
Argo Bromo-Anggrek pagi mengantar aku ke Jakarta, terlambat 1 jam dari jadwal
yang tertera di tiket. Alternatif termurah tapi nyaman, karena tiket pesawat
saat itu hampir mendekati angka 300 ribu rupiah, sementara kereta 200 ribu saja
gak sampai. Surprise..begitulah sambutan teman-teman dan saudara yang kuberitahu
lewat Sandek (Pesan Pendek, baca: SMS) kalo aku sedang on the way ke Jakarta.
Karena memang biasanya bisa sampai disana kalau ada urusan pelatihan saja.
Menyenangkan, ketika mereka berharap aku berhasil melalui tahapan wawancara di
sebuah lembaga pelatihan broadcast.

Hujan
menyambut kedatanganku. Kemacetan tidak terlalu menggangu karena memang sudah
lewat jam macet. Lantunan Nothing Gonna Change my Love For You dari George
Benson..Dont Sleep Away This Night dari Daniel Sahuleka.. Shoulder To Cry On
dari Tomy Page..If You Leave Me Now dari Chicago dan lagu bergenre sama
lainnya.. seperti menambah kuat sambutan hangat Jakarta. Kalau aku sebut
suasana romantis kurang tepat..karena di mobil cokelat milik perusahaan
distribusi pelumas untuk industri itu ada 4 makhluk sekaligus. Mereka rame, dan
berceloteh khas orang Jakarta, elo..gue..belagu..dan bahasa betawi lainnya yang
menjauhkan dari suasana romantis.

Hari-hari
berikutnya, aku seperti larut dalam denyut nadi Jakarta. Menelusuri jalanan
dari Pamulang menuju Lebak Bulus dengan sebuah angkutan kota berkode C15, atau
duduk tenang dalam bis mini 69 dari Kebayoran menuju Ciledug lanjut dengan
angkutan C12 menuju Cipadu seperti meyakinkan aku kalau Jakarta tak sekejam ibu
tiri. Entah, mungkin karena aku melakukan perjalanan itu diluar jam padat,
sehingga semuanya berjalan aman. Naik angkot kebablasan pun, tidak membuat aku
resah apalagi gusar karena denagn begitu aku bisa melihat lebih banyak suasana
Jakarta. Cipadu dengan sederet pertokoan textil berharga miring, mengingatkan
aku pada Wedoro, sebuah pusat penjualan home industry sepatu dan sandal di
Sidoarjo Jawa Timur.

Selebihnya
aku menghabiskan waktu berjalan dengan sebuah sepeda motor Tiger biru, yang
kadang menyulitkan pergerakan di tengah jebakan kemacetan. Menembus gelapnya
malam yang basah oleh air hujan..menerobos teriknya matahari yang bercampur
asap kendaraan bermotor.. Tapi semuanya kuanggap menyenangkan, bukan hanya
karena dengan siapa aku melakukannya..

Medio 7-10 Desember 2005

Sudah Desember…

December 2nd, 2005 by dianeka

Tahun 2005 mo
habis…Aku mencoba mengingat kembali bulan-bulan di tahun 2005. Januari,
Februari, Maret..dst..Yang aku ingat tentang Januari..sebuah perjalanan ke
sebuah kota di perbatasan barat Jawa Timur-Jawa Tengah. Aku menghadiri pernikahan
kakak sahabatku. Aku cuma dipesani agar cepat menyusul. Ya..mudah-mudahan.

Februari…hmmm
.apa ya…?Di Surabaya, aku bertemu dengan sohib-sohib dari Bojonegoro dan
Jakarta..Seorang sahabat dari Jakarta datang khusus ke Jawa Timur untuk merebut
cintanya kembali. Tapi entah..bagaimana endingnya sekarang…mudah-mudahan yang
terbaik saja buat dia.

Maret..sebuah
musibah menimpa tempat kerjaku. Tower radio setinggi 80 meteran roboh kena
angin. Alhamdulillah tidak ada korban jiwa atau luka, meski aku dan program
director waktu itu sedang berada di ruang yang direbahi langsung si tower.
Semingguan radioku hanya sunyi, tanpa bunyi. Selama off itu aku gunakan untuk
jalan ke Malang dan Surabaya, ngelmu sambil refreshing.

April..ya..April
itu genap aku berusia 2 tahun di tempat aku bekerja sekarang. Dan di usia
itu..aku mendapat tempat baru untuk mengawasi keseluruhan aktivitas siar. Baik
pemberitaan, penyiaran, musik, dan iklan. Sebuah kepercayaan yang tidak pernah
aku duga sebelumnya. Aku tak mau tahu alasan aku bisa ditempatkan disitu.
Sebuah tantangan yang tidak mudah bagiku.

Mei..aku lupa.
Juni…aku juga lupa..Sebentar..oya, selama Mei-Juni aku menjadi ‘pion’ untuk
menyelesaikan masalah PHK karyawan. Kuanggap ini musibah. Sebuah kesalahan dan kelalaian administrasi
berbuntut gugatan ke Disnakertrans. Sebuah pengalaman baru bagiku, ketika harus
beradu argumen seputar hukum dan ketenagakerjaan. Meski akhirnya perusahaan
kalah karena memang salah, aku mendapat pelajaran banyak dari situ. Teman-teman
kerja juga akhirnya lebih berhati-hati.

Juli….tanggal
2-3 Juli ada Reuni Akbar Impala Unibraw. Rame tuh yang datang, mulai anggota
yang sudah beranak 5 udah pada SMP anak-anaknya..sampai yang masih kuliah di
semester 1 ada. Anggota angkatan tahun 1976 dengan nomer urut 1 juga dateng jauh-jauh
dari Jogja, pembawaannya sudah seperti Eyang Kakung, tapi dengan santai semua
anggota memanggilnya Mas. Meski dia sendiri punya julukan Mbah. Anggota senior
yang sekarang aktif di kampanye anti HIV-AIDS di Papua juga datang khusus di
reuni itu. Dari Semarang..Jakarta..sebagian besar datang bersama
anak-istri/suaminya. Reuni mendatang apakah aku akan datang dengan
keluargaku?yah..wallahua’lam. Oya sebelum datang ke reuni itu aku dan
teman-teman sempatkan berkunjung ke Gresik, karena salah 1 sahabatku
melahirkan. Seorang bayi laki-laki lucu dan sehat. Sahabatku dan ibunya tak
pernah bosan mengingatkan aku agar segera menyusul..Ya..aku cuma minta doa
mereka saja biar aku cepat menyusul.

Agustus..rasanya
kok tak ada yang istimewa di bulan ini. Paling kesibukan di kantor..sedikit
‘reshuffle’ di kru siar.

September…tanggal
2-4. Aku putuskan untuk ikut membantu gawe seorang teman di Bromo dan Malang.
Awalnya sempat ragu-ragu ikut acara itu karena di bulan September sudah ada
beberapa agenda yang mengharuskan aku bolos kantor. Minggu kedua sepupuku
menikah, Minggu ketiga sahabatku di Pati Jawa Tengah menikah juga. Tapi
ya..karena itung-itung sudah lama tidak ‘bercumbu dengan alam’ kuputuskan saja
berangkat. Ternyata rombongan kecelakaan di Bromo..salah satu dari bis yang
membawa rombongan terguling. Masih beruntung tidak ada korban jiwa, hanya luka
dialami seorang wartawan TV yang rencananya meliput kegiatan itu..Disinilah Anugerah Terindah yang Pernah Kumiliki kutemui untuk pertama kalinya. Akhir dari perjalanan di
acara itu..tampaknya menjadi awal dari sebuah perjalanan hidupku
berikutnya..Semoga.

Oktober..bulan
puasa. Menjadi bulan yang berat. Mungkin benar..semakin tinggi pohon semakin
kencang pula angin yang meniup pohon itu. Beruntung aku seperti diingatkan oleh
Tuhan lewat masalah-masalah itu. Masalah-masalah yang rasanya sulit diterima
akal sehat, tapi nyatanya ya ada..

November..diawali
hari kemenangan umat Islam setelah sebulan menahan napsu, lapar, dan haus.
Seperti manusia yang terlahir kembali..Seperti biasa, keluarga nyekar dan
saling mengunjungi untuk bersilaturahim. Masih dalam suasana lebaran..sebuah
awal perjalanan panjang benar-benar dimulai. Kesamaan niat, kesamaan
‘visi-misi’ dan keberanian berkomitmen, maka bismillahirrohmanirrohim membuka
perjalanan itu. Dengan 1 harapan, semoga Allah SWT meridoi, melancarkan dan
mempermudah segalanya sampai kapanpun.

Desember..aku hanya berharap ..tahun penuh musibah ini segera berakhir. Lalu berganti dengan tahun yang penuh berkah dan limpahan rahmad Nya. Aku juga berharap agar aku tak pernah lupa bersyukur, dengan apa yang aku miliki saat ini. Kupersiapkan kemantapan langkahku menuju bulan Januari 2006.


Ketika Perempuan itu Ingin Maju..

November 27th, 2005 by dianeka

Perempuan muda di
depanku diam penuh keresahan. Baru saja dia meminta ‘pembelaan’ agar orang
tuanya tidak shock menerima berita tentangnya. Berita tentang sebuah peristiwa
yang sebenarnya sederhana tapi menjadi rumit hanya karena perbedaan
persepsi..atau yang lebih mendasar perbedaan prinsip.

“Mamaku pingsan
mbak..waktu denger kabar itu..”

Sebuah reaksi
yang sama sekali tak diduga, karena sebenarnya yang dikhawatirkan adalah reaksi
bapaknya. Padahal menurut kacamataku dan orang-orang lain di kantor ini,
peristiwa yang terjadi tepat di hari ulang tahunnya itu, sesuatu yang
wajar..Hanya sebuah surprise yang dirancang oleh temen se kantor disponsori
oleh pacarnya. Mirip reality show, perempuan berbodi menggoda (menurut pendapat
mayoritas karyawan pria di kantor) itu ‘disidang’ besar-besaran (dihadiri
seluruh karyawan) karena kesalahan mengutip berita yang diudarakan, dan pihak
yang mengeluarkan berita itu menuntut akan mensomasi kantorku. Aku sendiri
berperan sebagai orang yang meminta pertanggungjawaban secara internal. Ketika
perempuan itu mencapai puncak kemarahan, air se ember diguyurkan ke tubuhnya.
Belum habis kaget dengan surprise itu, pacarnya yang sengaja datang dari
Sidoarjo tanpa sepengetahuannya, muncul dari belakang membawa black forest
berdiameter 20cm lengkap dengan lilinnya. Semakin histerislah perempuan itu,
sambil menerima ucapan selamat dari pacaranya. Tiba-tiba seorang super sepuh di
kantorku muncul dengan nada tinggi menyuruh segera mematikan lilin-lilin di kue
itu. Semua yang hadir di ruang itu semakin terkejut ketika akhirnya sosok super
sepuh itu meniup mati semua lilin di kue..Dengan suara tinggi dia menilai acara
seperti itu bukan adat kita..Semua yang hadir disitu langsung terdiam dan
tersenyum kecut..karena tawa sudah terlanjur dilepas. Bahkan nasi kotak
jatahnya yang dibagikan ke semua karyawan, ditolaknya.

“Saya akan
laporkan ke orang tuanya..Dia juga mestinya tidak boleh menerima orang yang
bukan muhrimnya di tempat ini..”Oh..my God…Orang itu mengeluarkan ancaman
lewat karyawan lainnya.

Upaya gerak cepat
mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan tampaknya sia-sia..Karena ibu
perempuan itu terlanjur mendengar kabar itu dari orang lain yang mendapat
informasi dari si super sepuh. Tak tanggung-tanggung, ibu perempuan itu
memberikan 2 pilihan saja untuk anak pertamanya itu:

“Keluar dari
kerja dan berhenti kuliah..atau…keluar dari rumah..”

What??????????????????Hanya
karena reality show itu????????

Sebuah pilihan
yang sulit tentu saja bagi perempuan itu. Karena aku tahu betul betapa untuk
bisa kuliah saja dia harus berperan sebagai pemberontak dalam keluarganya.
Dengan konsekuensi dia harus membiayai sendiri kuliahnya, dan tentu saja
mendapat perlakuan diskriminasi dalam keluarganya. Padahal IPK nya rata-rata
diatas 3 koma. Orangtuanya sendiri menginginkan perempuan itu berkeluarga
seperti umumnya orang-orang sesukunya. Tak perlu kuliah, tak perlu bekerja,
apalagi bergaul luas. Apalagi bekerja di radio, yang menuntut jam kerja berbeda
dengan pegawai kantoran umumnya. Jangan sampai orang tuanya melihat perempuan
berjilbab itu berboncengan dengan lawan jenis..pasti emosi akan ditumpahkan
saat itu juga pada dirinya. Jam 9 malam adalah batas akhir perempuan yang
menjadi kakak bagi 6 adik perempuannya itu ada di luar rumah, lewat dari
itu…mungkin dia harus mencari alternatif tempat menginap, dengan konsekuensi
pasti kena semprot juga. Belum lagi pacarnya bukan orang dari sukunya.
Resikonya perempuan itu bisa ‘dikeluarkan’ dari lingkungan keluarganya plus diskriminasi
long term dari sukunya sendiri. Meskipun pacarnya sudah ‘memenuhi salah satu
syarat dari 2 syarat’ tak tertulis sebagai orang luar dari sukunya. Bagus
secara fisik atau bagus secara materi. Pacarnya seorang pengusaha muda dari
keluarga sangat..sangat…berkecukupan.

Permasalahan yang
benar-benar rumit sedang dihadapi perempuan itu…

“Ya sudah..malam
ini aku ke rumahmu untuk ketemu orang tuamu. Biar kita bisa jelaskan gemana
duduk permasalahannya..Mudah-mudahan Mama mu bisa nerima.”

Ya itu alternatif penyelesaian terakhir sebelum perempuan itu menentukan salah satu diantara 2 pilihan tadi. Selebihnya..biarlah menjadi tugasnya.

Catatan:
Mungkin aku lagi-lagi harus bersyukur…karena ternyata tak banyak perempuan di daerah ini yang punya kesempatan menghirup udara bebas dalam segala hal…Tak sedikit perempuan yang dilarang keras melanjutkan sekolah ke tingkat pendidikan tinggi, kuliah di luar Madura, dll.Entah untuk alasan apa..Pokoknya ndak boleh…

Detik..detik….

November 16th, 2005 by dianeka

Membuka kembali
tulisan pertama blog ku aku tersenyum..

Tak pernah
terpikir akan ada angin..air..atau apapun yang bisa membawaku kembali ke kaki
gunung..

Tanpa aku
sadari..

Tampaknya
sekarang aku harus berkemas untuk segera turun gunung..

Menanggalkan ambisi
untuk menjejakkan kaki di puncak gunung yang lebih tinggi..

Ucap selamat
tinggal pada angin kencang yang selalu melewati puncak itu..

Dengan segala
tantangan dan resikonya..

Semua tak lain
karena kehendak Nya, yang tak bisa ditolak ataupun diraih semau kita.

**

Melihat tawamu
mendengar senandungmu..

Terlihat jelas di
mataku warna-warna indahmu..

Menatap langkahmu
meratapi kisah hidupmu..

Terlihat jelas
bahwa hatimu anugerah terindah yang pernah kumiliki…

Sifatmu nan slalu
redakan ambisiku..

Tepikan khilafku
dari bunga yang layu..

Saat kau disiku
kembali dunia ceria..

Tegaskan bahwa
kamu..

Anugerah terindah
yang pernah kumiliki…

**

Semoga Tuhan
selalu memberi petunjuk dalam perjalananku berikutnya

Menuruni
gunung..yang sudah kudaki cukup lama..

Menghabiskan
waktu sebagai ‘orang biasa’

Membangun
keluarga yang sakinah..mawaddah..warahmah

Amin.

Sekarang Itu Surga….

November 11th, 2005 by dianeka

Sabtu siang
suasana kantor sepi..Selesai menggantikan tugas penyiar yang absen aku turun
dari lantai 2.

“Dian lahir tahun
berapa..?”salah satu komisaris perusahaanku bertanya pas aku sampai di meja
kerjaku. Aku sedang membaca harian Kompas edisi Sabtu.

“Tahun 77
pak..Kenapa?”

“Nah..Dian perlu
tahu sejarah juga..ini saya bawakan Koran tahun 71..”

What..???Koran
tahun 71 beliau masih punya???

“Koran waktu itu
hanya boleh terbit 1 lembar begini..”

Komisaris yang
dulu memang wartawan itu menunjukkan selembar koran berwarna cokelat (karena
faktor usia), lebih besar dari ukuran Jawa Pos, Kompas, apalagi Koran Tempo.
Aku lihat tanggal penerbitan Harian Abadi itu Senin 16 Agustus 1971, 23
Djumadil Achir 1391 H.

Aku tersenyum
mengamati koran yang menampilkan banner di halaman depan “Sekali Merdeka Tetap
Meredeka”. Ya..karena edisi itu terbit sehari sebelum peringatan kemerdekaan
RI. Masih di halaman depan, ada foto Soekarno berjabat tangan dengan Soeharto,
Keluarga Soeharto lengkap bersama the first lady dan putra putrinya yang
sekarang lebih berperan sebagai selebriti atau napi. Ada juga foto Presiden
Soeharto, teks di foto itu menyebutkan untuk meningkatkan produksi pertanian,
Presden Suharto turun kesawah mengajun tjangkul. Ah..jadi mirip si SBY…

Sementara
beberapa berita yang aktual hari itu Kapolri Drs.Hoegeng:Ketentuan Ttg Helm
Belum Ada Dasar Hukumnja. Jadi ingat dasar hukum menyalakan lampu sepeda motor
di siang hari..Apa ya?

Kakek kelahiran
Bangkalan 12 Desmeber 1922 itu kembali menjelaskan dengan semangat ’45,

 “Waktu itu koran cuma boleh terbit selembar
begini..karena keterbatasan stok kertas…Pemerintah melarang terbit lebih dari
selembar. Tapi koran yang paling kaya waktu itu KOMPAS, terbit lebih dari 1
lembar.” Padahal dulu hutan pasti masih
bagus kondisinya..sekarang hutan habis..tapi justru sebaliknya..tak ada satupun
media cetak yang terbit selembar..seperti harian yang aku pegang ini…

Aku tersenyum
lagi melihat halaman belakang koran itu. Isinya iklan semua, Sarinah Toserba
(yang aku ingat Sarinah ini terbakar waktu tahun 80an..), Garuda Indonesian
Airways yang mengiklankan ‘Singapore, terbanglah kesana dengan Garuda dalam
njaman dan tjepatnja pesawat Jet besar DC-9’. Ada juga iklan yang bunyinya
begini,”Telah lahir…Dengan Rahmat Tuhan Jang Maha Esa, telah lahir dengan
selamat pada tanggal 11 Agustus 1971 putera kami jang ketiga. Fickry A. S.
Kepada bidan Nj.E.Soebagio tak lupa kami utjapkan terima kasih atas segala
bantuan jang telah diberikannja. Keluarga jang berbahagia….bla..bla..bla..”.
Tarif iklannya 1 mm/kolom Rp. 40 rupiah. Harga langganannya 250
rupiah…….untuk dalam kota dan luar kota lewat via pos biasa!!!!Kalau via
pos udara 275 rupiah saja….Wow!!!!

“Wartawan
sekarang enak…kalo dulu mau kirim berita..harus cari taksi dulu..Atau telpon
ke Jakarta ne..belum tentu 2 hari bisa tersambung sama Jakarta..”

“Wah..berarti
beritanya gemana tu Pak?”

“Ya..yang bisa
dimuat biasanya yang longlife. Jadi kalo kira-kira ndak bisa tersambung dengan
Jakarta..ya sudah..berita nya angus…”

“Ndak kayak
sekarang telpon tinggal pencet 021…sudah nyambung..ada HP..fax..internet..”

Aku hanya
tertawa..

“Sekarang ini
surga…dulu percetakannya juga gak sesempurna sekarang. Mesin cetak gak punya
huruf yang lengkap. Ada yang gak punya huruf P, ada yang gak punya huruf D..”

“Trus tulisan di
korannya gemana tu Pak?”

“Ya..diganti
dengan huruf yang mirip. Misalnya Penduduk..percetakan yang gak punya huruf P menggantinya dengan B..jadi
bacaannya Benduduk…”hahahaha…jadoel..jadoel…

Sayang Harian
Abadi ini tak seabadi namanya..

“Bersama 5 koran
lainnya..Indonesia Raya, Jakarta Times, KAMMI, trus apa lagi satu saya
lupa…di bredel karena memuat berita pembongkaran kasus Malari.”

“Aturan bredel
waktu itu pake apa Pak.?”

“Ndak pake
aturan. Sesudah Indonesia merdeka, pembredelan justru lebih kejam dibanding
jaman penjajahan Belanda. Kalau jaman Belanda ada namanya Press Breidel
Ordonnansi. Kalau ada koran yang menjelekkan pemerintah, pimred langsung yang dipanggil,
disidang, ditunjukkan berita ini hari ini tanggal segini menghina pemerintah.
Lalu diputuskan..koran dibredel dari tanggal sekian sampai tanggal sekian..bisa
cuma seminggu..atau 2 minggu..Jadi karyawan tidak kehilangan mata
pencaharian..Setelah Soekarno menyatakan Pers berjasa besar dalam kemerdekaan
RI, Press Breidel Ordonnansi dihapus. Pas jamannya Suharto..pembredelannya
langsung menyegel percetakan, karyawan jadi korban..”Oalah Suharto..Suharto…

Orang yang
menguasai 4 bahasa asing dan rajin membaca majalah TIME ini menilai “Berita
jaman dulu juga lebih menggigit…kalo sekarang lebih banyak talking news
daripada factual news..”

Menarik juga bisa
melihat bagian dari sejarah pers di Indoensia dari saksi sejarah. Lebih menarik
lagi…Perwakilan Harian Abadi di Jawa Timur yang pernah menjadi wartawan
Memorandum ini berjanji “ Hari Senin saya bawakan koran terbitan tahun 49….”


Saksi sejarah itu bernama Hasan Altuwy